Logo Yayasan Nurul Iman Rawalo

Lembaga pendidikan Pesantren Dan pendidikan Formal

Logo Pondok Pesantren MH Nurul Iman (El Madani)

Kedungwangkal, Banjarparakan, Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah.

Logo SMA Pesantren El Madani Rawalo

Pendidikan Berbasis Pesantren.

Logo LPKU

Lembaga Pemberdayaan Kesejahteraan Umat

Logo ELSA

El Madani Safari Tour, Melayani Umroh dan Haji Plus

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Jumat, 30 Oktober 2020

Senandung lirih Nikmatnya Al Qur'an dari Alumni PONPES EL-MADANI

Www.el-madani.com

" Sepucuk surat untuk penghafal al_quran" 


Wahai kalian penghafal al_qur'an

Sang pejuang dalam kebaikan

Banyak cobaan cobaan yang kalian hadapi

Akan tetapi kalian selalu percaya pada janji sang ilahi.


Meski dengan bersusah payah

Ayat demi ayat telampaui sudah

Istirahatlah sejenak jika merasa lelah

Tetapi janganlah menyerah.


Kesulitan yang kalian hadapi sekarang

Akan berbuah manis pada masa yang akan datang

Sesuatu yang ada di dunia memang sangat menggiurkan

Tetapi kemewahan syurga tidak ada yang mengalahkan.


Teruslah menghafalkan

Walaupun kalian sudah ada yang di halalkan

Tidak ada batas waktu atau umur untuk terus bersama al_qur'an.



By : Novi Iiani

To : santri el_madani



#pondokpesantren #elmadani #harisantri #smaelmadani #smabanyumas #smarawalo #ponpeselmadani #rawalo #ayomondok #santri_elmadani



Minggu, 25 Oktober 2020

ELSA Layanan Umroh pondok pesantren El madani Rawalo

Menunggu sambil berdoa semoga wabah virus corona cepat hilang, mari menabung Umroh bersama ELSA layanan Trevel UMROH pondok pesantren el madani. 
Siapa yang tak inginkan ziaroh ke Makkah Madinah dan kemakam Rosululloh, baik secara Haji ataupun Secara Umroh, pastinya itu semua dambaan Ummat Islam, baik yang kaya atau miskin baik kaula muda ataupun yang tua. 
Pondok pesantren el madani menyediakan layanan travel Umroh dengan fasilitas nyaman, aman dan tertib, semua dipandu oleh orang-orang yang profesional, Elsa travel umroh berdiri untuk membantu masyarakat luas yang ingin Umroh,

Untuk informasi bisa datang langsung ke 
Pondok pesantren el madani 
Alamat kedungwangkal desa Banjarparakan Rawalo kabupaten Banyumas.
Kontak wa/hp: 085227006220 ( Gus rif'an )

Pp Miftahul huda pesawahan 
Pondok pesantren miftahul huda rawalo 
Ma Miftahul huda 
Sma Miftahul huda
Ponpes Miftahul huda 
Pondok pesantren al falah banjarparakan 
PP al falah 
Smp al falah 
Mts al mujahidin 
Sma rawalo pesantren pesawahan pesantren banyumas pesantren rawalo 

Kamis, 22 Oktober 2020

Ungkapan hari santri nasional 2020


hari santri nasional 2020 ucapan para santri pondok pesantren el madani, sebagai wujud penghargaan terhadap para pejuang, tokoh agama dan para santri yang dengan gigihnya berperang demi membela tanah air tercinta hingga tetesan daerahnya, semoga Allah membalas kebaikan para pejuang yang rela berkorban untuk bumi pertiwi









Sejarah hari santri KH. Hasyim as'ari

 Hari santri nasional.... 

Www.el-madani.com

22 Oktober merupakan suatu peristiwa yang sangat bersejarah bagi kaum pesantren, yakni pada hari itu sebuah maklumat seruan yang di kumandangkan  oleh Hadrotussyech KH. Hasyim Asy’ari, yang kini dikenal sebagai “seruan jihad atau Resolusi Jihad”. 

Adapun seruan itu ditujukan kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan.

Baca juga Biografi KH. Hasyim asy'ari

KH. Hasyim Asy’ari sebagai tokoh besar pendiri Nahdatul Ulama menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ ain atau wajib bagi setiap orang” bagi dikalangan pesantren lebih dikenal HUBBUL WATHON MINAL IMAN. 

Api perjuangan selalu dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk membakar ssemangat para santri di Indonésia khususnya santri di Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Seruan jihad KYAI HAJI HASYIM AS’ARI sangat direspon oleh para Ulama terkenal diIndonesia sebagian besar para kyai ikut membantu penguatan resonansi Resolusi Jihad. Dukungan kian mengalir dari para tokoh agama, sebagian diantaranya KH. A. Wahab Chasbullah (Jombang). Lalu ada juga KH. Bisri Syamsuri (Jombang), KH. M. Dahlan (Surabaya), KH. Tohir Bakri (Surabaya), KH. Ridwan Abdullah, KH. Sahal Mansur, KH. Abdul Djalil (Kudus), KH. M. Ilyas (Pekalongan) KH. Abdul Halim Siddiq (Jember), dan KH Saifudin Zuhri (Jakarta), dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Berkat dukungan para ulama tersebut, KH. Hasyim Asy’ari semakin memperkuat fatwa Resolusi Jihad serta menggerakkan kaum santri dari berbagai daerah termasuk dari Cirebon Jawa Barat untuk berjuang ke Surabaya melalui barisan para militer santri, seperti Hizbullah, Sabilillah dan MMujahidin.

Begitu besar cintanya pada Indonesia hingga nyawa menjadi taruhan untuk mewujudkan arti sebuah kemerdekaan, untuk siapa? tentu untuk anak cucu dimasa mendatang.

Sekarang kita bisa menikmati kemerdekaan berkat tetesan keringat dan darah para pejuang yang gugur dimedan perang.

Semoga beliu beliu para mujahidin para pejuang yang telah gugur demi bangsa ini, diberi ampunan Oleh Allah, ditempatkan disebaik baiknya surganya Allah.. آمِّينَ امِّينَ  آمِّينَ ياَرَبَّ الْعَلَمِيْنَ 


Www.el-madani.com

Santri El madani memperingati hari santri nasional dengan berdoa dan upacara, sebagai penghormatan dan rasa syukur atas ikhlasnya para pejuang yang gugur demi membela tanah air tercinta Indonesia raya 


Selasa, 20 Oktober 2020

BU NYAI PESANTREN TOKOH UTAMA DIBALIK LAYAR


www.el-madani.com
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia, hal ini terlihat dari banyaknya tokoh intelektual yang beragamis,karena pesantren tak pernah lepas dari kegiatan tradisional yang dibangun turun temurun, sekalipun sudah berbasis modern.
Kyai adalah pemimpin didalam pesantren sekaligus sebagai pengasuh, dan juga tokoh dimasyarakat, namun dibalik semua itu ada seseorang yang ikut andil dalam menjalankan perkembangan dan kemajuan pesantren, beliu adalah Bu nyai.








Siapa itu bu nyai?

Bu nyai adalaha istri dari seorang ulama’, kyai atau pengasuh pesantren, sebutan bu nyai ini akrab dikalangan santri dan masyarakat di Jawa.


Apa peranan bu nyai dipesantren?


Peranan yang sangat luar biasa dan sangat berat diemban oleh seorang bu nyai atau istri dari seorang Kyai, walau jarang terekspos dimedia keberadaan seorang bu nyai sangatlah besar dalam perkembangan pesantren.

Bu nyai adalah wanita yang mendukung dan memberi semangat kepda seorang kyai/suaminya didalam menjalankan tugasnya sebagai pemuka agama, beliu juga tempat keluh kesah perjuangan seorang kyai dalam berdakwah.

Tidak hanya sebatas itu, bu nyai juga berperan aktif dalam manajemen pesantren, seorang bunyai adalah sentral kemajuan pesantren secara internal, hamper tiap hari waktunya dihabiskan untuk mendidik santri, untuk menghafal Al qur’an, serta menjadi tauladan baik dilingkungan pesantren ataupun dimasyarakat luas.

Bu nyai merupakan pilar didalam dunia pendidikan, tak sedikit berdirinya pendidikan formal dipesantren dikepalai dan diprakarsai oleh bu nyai.

Masih banyak peran penting dan pengabdian seorang bu nyai untuk kyai dan santrinya, demi menciptakan kader – kader yang islami…

Monggo apabila adayang tau peran bu nyai dipesantren

Tulis dikolom komentar



Penelusuran terkait  pondok pesantren terbaik dibanyumas  sma andalusia kebasen  pondok pesantren lelerbanyumas  smp andalusia kebasen   pendaftaran sma andalusia 2020  biaya ponpes miftahussalambanyumas  pendaftaran pondok leler  ponpes leler banyumas


Minggu, 18 Oktober 2020

Sholawatan bareng Santri PP EL MADANI

Memuji Allah wajib sebagai penghambaan diri pada sang kholik

Bersholawat Nabi sangat diperintahkan oleh Allah robbil 'aalamiin

 Sebagaimana Firman Allah:

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 


Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

PP. MIFTAHUL HUDA NURUL IMAN

Pondok pesantren rawalo, pondok pesantren banyumas

[ EL MADANI ]

Mempunyai kegiatan rutin sholawatan 12 hari dibulan Maulid dilaksanakan mulai tanggal 1, dan itu dilakukan sejak dahulu. 

 

Kegiatan ini bertujuan mengajak siapapun untuk bersholawat, demi mengharap Ridho Allah dan Syafa'at NabiNYA. 

Namun efek pandemi covid 19, rutinitas kali ini dilakukan dikalangan sendiri, untuk para pemirsa yang dirahmati Allah, mari ikut bersholawat ditempat kita masing - masing, semata - mata mengharap Ridho Ilahi dan mengharap Syafa'at Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassallam. 

 

Dalam situasi apapun mari kita terus dan terus mendekatkan diri pada Allah berserah pada NYA. 

Semoga pandemi ini cepat berlalu, dan kita semua, khususnya Indonesia semoga dijaga oleh Allah, diberi keselamatan, kemakmuran, kejayaan.

Sabtu, 17 Oktober 2020

Doa dan cara mengatasi kenakalan pada anak

Anak... Orang yang lahir dari rahim seorang ibu, Dan Merupakan Perhiasan dalam keluarga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

 الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً

 Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan. [Al Kahfi:46].


setiap manusia mendambakan seorang anak, apalagi yang sudah menikah Dan belum dikarunia momongan, berbagai hal dilakukan untuk bisa mempunyai anak, kebahagiaan dalam keluarga bila dilengkapi dengan lahirnya seorang anak, walau nyawa sebagai taruhan, walau sakit yang dahsyat ketika akan melahirkan, tiada pernah dihiraukan, rasa sakit terobati oleh tangisan suara bayi yang terlahir dari rahimnya, betapa besar pengorbanannya demi memiliki keturunan dengan harapan agar kelak bisa memberi kebahagian pada orang tua, baik kebahagiaan didunia ataupun diakhirat, sejuk rasanya ketika disaat saat maut mau menjelang, bila seorang anak berada disisinya sambil melantunkan Kalam Ilahi, melantunkan sholawat Nabi, 

Sebagaimana nabi bersabda:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ


“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631.

Pondok pesantren banyumas, daftar pondok pesantren, rawalo, rawalo rawalo, banyumas

bayangan itulah yang selalu ada dalam angan - angan orang tua, namun tak jarang harapan hanya tinggal sebuah impian belaka, bila kita menyimak dimedia kasus tentak kekerasan anak pada orang tyanya sendiri hngga ada yang tega membunuh ataupun memperkosa orang tuanya, yang notobene beliulah mengandung, melahirkan, merawat menyusui putra putrinya, bahkan bertengkar hanya gegara warisan. 'Na'u dzubillah tsumma na'udzubillah'".

Kenapa anak melawan sama orang tua, ingkar pada Tuhannya?


Banyak faktor yang terjadi pada kenakalan dan kedurhakan anak

1. Pergaulan

2. Terlalu dimanja

3. Kurangnya pendidikan Agama

Dan masih banyak faktor yang lain.

1. pergaulan Terkadang bisa membawa karakter pada anak, tergantung mereka bergaul dengan siapa


2. Terlalu dimanja juga berdampak kurang baik pada anak, yang akhirnya memiliki sifat ketergantungan pada orang tua.


3. Kurangnya asupan pendidikan Agam, inilah yang menjadi inti dari semua faktor kenakalan anak.


Bagaimana solusi agar anak bisa menjadi orang yang baik dan benar?....

Pendidikan Agama sangatlah menjadi modal utama untuk membangun dan membentuk karakter anak, Pasalnya Anak yang mempunyai pendidikan agama yang cukup, maka akan memiliki kepribadian yang baik, memiliki budipekerti yang luhur, akhlak yang mulia, adap sopan santun akan terpancar pada anak yang jiwanya sering mendapatkan siraman rohan, terlepas dari itu semua doa dan contoh tingkah laku orang tua harus mendukung untuk kebaikan anak.


Pendidikan Agama pada anak bisa dilakukan dilingkungan keluarga, Orang tua mengajarkan ilmu agama pada anak dan memberi contoh, namun kesibukan orang tua juga menjadi kendala untuk mengajarkan ilmu agama tiap hari, sehingga anak bisa terlantar.

Pendidikan agama bisa juga didapat dimadrasyah, mulai dari dini anak kita disekolahkan dimadrasyah baik TPQ ataupun diniyah, sebagai dasar kepada anak untuk mengenal Allah tuhan yang maha Esa.

Sebagaimana firman Allah 

Dititipkan kepondok pesantren, solusi inilah yang menjadi titik akhir untuk menanggulangi kenakalan pada anak. Kenapa?

Pada dasarnya dipondok pesantren anak bisa mendapatkan Pendidikan agama penuh, mulai dari ilmu Ketaqwaan, ilmu pendidikan umum, juga ilmu adab tatakrama dan sopan santun.

Sebagai mana firman Allah yang tersirat dalam surat Luqman: 13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

 “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau memperskutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’”


Kenapa ada anak mondok  Kok akhlaqnya masih jauh dari harapan.....?

Mendidik anak dipesantren konteksnya ada tiga, yang pertama dari pesantrennya, dari semangat anaknya, dan terpenting dukungan orang tua, anak dititipkan dipondok bukan berarti orang tua sudah lepas tangan, disinilah peran orang tua juga dibutuhkan, yang pertama, memberi semangat pada anak, yang kedua mencukupi kebutuhan anak ( kebutuhan ekonomi, perlengkapan dipesantren) Ketiga dukungan doa sangat dan amat menjadi prioritas demi menunjang kesuksesan ana, Sebab doa orang tua untuk anak tiada hijab, begitu pula sebaliknya.

Banyak doa - doa untuk kebaikan anak

Seperti doa Nabi Ibrohim:


رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ


Robbi hablii minash shoolihiin 

Artinya : Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash Shaffaat: 100)

Jika semua itu bisa terlaksana, maka apa yang menjadi impian orang tua InsyaAllah dapat terwujuD. Amiin... 

Banyak pesantren yang Sudah mencetak muda mudi menjadi orang yang berguna, baik untuk agama, nusa dan bangsa, contoh pesantren tebu Ireng, lirboyo, Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Remban, Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’a, Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kedir, Pondok Pesantren API Tegalrej, al amin madura, sidogiri, dan masih banyak ribuan yang lain, begitu juga dibanyumas, banyak juga pesantren yang didirikan untuk membangun generasi yang beriman dan bertakwa, seperti Pesantren di Kota Banyumas

Jump to navigationJump to search


Contents

1 Pondok Pesantren PP Ath Thohiriyyah Banyumas

2 Pondok Pesantren PP Miftahussalam Banyumas

3 Pondok Pesantren PP Anwarul Huda Banyumas

4 Pondok Pesantren PP Roudhotul Quran Banyumas

5 Pondok Pesantren PP Sabilun Najah Banyumas

6 Pondok Pesantren PP Al Husna Banyumas

7 Pondok Pesantren PP Bahrul Ulum Banyumas

8 Pondok Pesantren PP. Darul Muttaqiin, Banyumas

9 Pondok Pesantren PP. Achsanul Hadits, Banyumas

10 Pondok Pesantren PP. Almuta'abbidin, Banyumas

11 Pondok Pesantren PP. Raudlotul Qur'an, Banyumas

12 Pondok Pesantren PP. Al Falah, Banyumas

13 Pondok Pesantren PP. Al Falah, Banyumas

14 Pondok Pesantren PP. Al Mujahidin, Banyumas

15 Pondok Pesantren PP. Assalafiyah Tsani, Banyumas

16 Pondok Pesantren PP. Miftahul Huda, Banyumas

17 Pondok Pesantren PP. Miftahul Huda Nurul Iman,G Banyumas


Baca juga : Teladan Muasis Ponpes MH Nurul Iman (El Madani)


18 Pondok Pesantren PP. Ta'yinul Ma'arif, Banyumas

19 Pondok Pesantren PP. Attausjeh Al Islamy, Banyumas

20 Pondok Pesantren PP. Darul Muttaqin, Banyumas

21 Pondok Pesantren PP. Darul Falah, Banyumas

22 Pondok Pesantren PP. Darul Ulum, Banyumas

23 Pondok Pesantren PP. Nuururrohman, Banyumas

24 Pondok Pesantren PP. Roudhotul Qur'an, Banyumas

25 Pondok Pesantren PP. Roudlotut Tholibin, Banyumas

26 Pondok Pesantren PP. Wathoniyah Islamiyah, Banyumas

27 Pondok Pesantren PP. Al Anwar, Banyumas

28 Pondok Pesantren PP. Al Falah, Banyumas

29 Pondok Pesantren PP. Babul Muttaqin, Banyumas

30 Pondok Pesantren PP. Hidayatil Mubtadiin, Banyumas

31 Pondok Pesantren PP. Hidayatul Mubtadiin, Banyumas

32 Pondok Pesantren PP. Ibnu Taimiyyah, Banyumas

33 Pondok Pesantren PP. Nurul Hidayah, Banyumas

34 Pondok Pesantren PP. Miftahul Falah, Banyumas

35 Pondok Pesantren PP. Nahdlotut Talamidz, Banyumas

36 Pondok Pesantren PP. Nurul Jubail, Banyumas

37 Pondok Pesantren PP. Al Amien, Banyumas

38 Pondok Pesantren PP. Anwarus Sholihin, Banyumas

39 Pondok Pesantren PP. Fathul Huda, Banyumas

40 Pondok Pesantren PP. At Tholabah, Banyumas

41 Pondok Pesantren PP. PPPI Miftahussalam, Banyumas

42 Pondok Pesantren PP. Sirojuddin, Banyumas

43 Pondok Pesantren PP. API Al Hidayah, Banyumas

44 Pondok Pesantren PP. Al Falah, Banyumas

45 Pondok Pesantren PP. At Taqwa, Banyumas

46 Pondok Pesantren PP. Hidayatul Mubtadiin, Banyumas

47 Pondok Pesantren PP. Al Munawwir, Banyumas

48 Pondok Pesantren PP. Misriu Al Falah, Banyumas

49 Pondok Pesantren PP. NurutTaubah, Banyumas

50 Pondok Pesantren PP. API Assalafi, Banyumas

51 Pondok Pesantren PP. Darul Falah, Banyumas

52 Pondok Pesantren PP. Darul Huda, Banyumas

53 Pondok Pesantren PP. Roudlotul Ilmi, Banyumas

54 Pondok Pesantren PP. Darussa'adah, Banyumas

55 Pondok Pesantren PP. Darussalam, Banyumas

56 Pondok Pesantren PP. Fakir Miskin Al Ikhlas, Banyumas

57 Pondok Pesantren PP. Mambaul Ulum, Banyumas

58 Pondok Pesantren PP. Nurul Iman, Banyumas

59 Pondok Pesantren PP. Al Hikmah, Banyumas

60 Pondok Pesantren PP. Al Hidayah, Banyumas

61 Pondok Pesantren PP. Roudhotut Tholibin, Banyumas

62 Pondok Pesantren PP. Al Chasan, Banyumas

63 Pondok Pesantren PP. Al Falah, Banyumas

64 Pondok Pesantren PP. Al Khalimi, Banyumas

65 Pondok Pesantren PP. Al Ma'mur, Banyumas

66 Pondok Pesantren PP. Assunniyyah, Banyumas

67 Pondok Pesantren PP. Imamutthoyyibah, Banyumas

68 Pondok Pesantren PP. Tadzkirotul Ikhwan, Banyumas

69 Pesantren PP. Al Ittihaad, Banyu



mas

71 Pondok Pesantren PP. Daarusy Syafaah, Banyumas

72 Pondok Pesantren PP. Darul HikmahSubulissalam, Banyumas

73 Pondok Pesantren PP. API Salaf, Banyumas

74 Pondok Pesantren PP. Salafiyah Al Jamil, Banyumas, 

Semoga anak anak kita menjadi orang yang sholih sholiha berguan untuk agama, nusa dan bangsa...

Sahabat yang budiman, apabila ada pesantren dibanyumas yang belum disebut, silahkan tinggalkan dikolom komentar dibawah ini 👇


Penelusuran terkait

Doa supaya anak tunduk pada orang tu, Doa Mujarab pelembut Hati Ana, Doa melembutkan Hati Anak Sesuai sunna, Doa agar anak lembut hatiny, Doa agar anak mendengar kata ibu bap, Doa agar Anak Betah diruma, Doa menyadarkan Anak yg Bandel, Asmaul Husna agar anak nurut

Jutaan keistemewaan bagi penghafal Al qur'an

 






Al qur'an adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk menjadi pembimbing ummat manusia serta menjadi cahaya Insan sejati menuju hidup yang terang benerang, Al qur'an tak akan lekang dimakan waktu tak akan hilang ditelan masa, karena Allah SWT selalu menjaga dan memeliharanya, sebagai mana Firman Allah SWT didalam surah al-Hijr ayat 9: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami yang benar-benar memeliharanya."

Nabi Muhammad SAW. memelihara Al qur'an yaitu dengan menghafalnya, bahkan Rosulullah menganjurkan kepada para sohabat dan Ummatnya untuk menghafal Ayat - ayat suci Al qur'an, Sangat merugi bagi orang - orang yang dalam hidupnya sama sekali tidak hafal sedikitpun dari ayat ayat suci Al qur'an, sebagaimana Nabi mengibaratkan dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. "Orang yang tidak mempunyai hafalan Alquran sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh." begitu istimewanya penghafal Al qur'an dihadapan Allah dan Rosulnya, karena Al qur'an merupakan pedoman hidup untuk menuju kebahagiaan baik didunia ataupun Akhirat. 

Lalu, apa keistimewaan orang yang hafal Al qur-an? 

Dikutip dari sebuah kisah sahabat Nabi SAW. Yaitu Amr bin Salmah, beliu menghafal Al qur'an sejak usia 7 tahun, beliu mendapatkan tempat istimewa dihati masyarakat karena kepandaiannya menghafal Al qur'an dan beliu selalu ditunjuk selalu menjadi Imam dalam sholat berjamaah ataupun sholat jenazah, hal itu sesuai sabda Nabi SAW, "Orang yang paling banyak menghafal ayat-ayat Alquran lebih utama untuk menjadi imam." 

Selain Amr adapula sohabat nabi yaitu Ibnu Abbas. Yang pada usia 10 tahun, beliu telah hafal 30 juz. (Bukhari, Fathul Bari). Keistimewaan beliu menjadi ulama besar dalam tafsir karena ingatan yang sangat terjaga pada masa kanak-kanak. Menurut Abdullah bin masud "Ahli tafsir terbaik adalah Ibnu Abbas. 

Itu hanya contoh sebagian kecil dari jutaan keistimewaan yang diberikan Allah kepada para penghafal Al qur'an, masih banyak keistimewaan yang bisa didapat bagi yang sungguh - sungguh menghafal Al qur'an sebagaimana yang diriwayatkan oleh Hakim, nabi SAW bersabda "Barang siapa yang membaca (hafal) Alquran, sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian. Hanya saja, tidak diwahyukan kepadanya." (HR Hakim), juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi SAW bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya."

Di Indonesia sendiri banyak pondok pesantren ataupun lembaga - lembaga yang mengajarkan metode menghafal Al qur'an, dengan tujuan agar mudah untuk Menghafal Al qur'an. 

Contoh salah satunya Pondok pesantren El-madani, yang didirikan oleh Kyai Muhammad Djudan dawam

Baca juga: Biografi Kyai Muhammad Djudan Dawam

Dipesantren El madani sendiri memiliki program hafalan Al qur'an, metode yang diterapkan adalah setoran satu halaman setiap hari, setiap santri yang ikut program hafidz wajib menyetorkan hasil hafalannya kepada pembimbing, selain setoran ayat, santri juga diwajibkan ikut murojaah atau membaca ayat yang sudah disetorkan sebelumnya dengan halaman dan batas yang ditentukan oleh pembimbing, tujuannya agar santri tidak lupa ayat yang sudah dihafal sebelumnya. 

Simak siapa saja yang Hafidz: Menghafal Al-Qur'an Hingga Khatam

Tujuan El madani mengadakan progam hafalan adalah ingin mencetak generasi penerus bangsa yang Al qur'ani, agar mendapatkan keselamatan, kebahagiaan didunia dan akhirat. 

Pondok pesantren El madani sudah banyak melahirkan santriwan santriwati yang hafal dan mempelajari Al qur'an, semua berkat kegigihan santri serta kesabaran dan ketelatenan guru pengajar. 

Semoga anak cucu kita menjadi orang orang yang cinta Al qur'an, dan semoga kelak dikita semua dipadang mahsyar digolongkan dengan para Ahli Al qur'an آمِّينَ امِّينَ  آمِّينَ ياَرَبَّ الْعَلَمِيْنَ


Penelusuran terkait
7 Keistimewaan Al Quran Keistimewaan al quran brainly carilah ayat-ayat yang menjelaskan tentang keistimewaan al-quran Sebutkan Keistimewaan Al Qur'an dari segi susunan kalimat 5 Keistimewaan Al Qur'an keistimewaan al quran yang disebutkan dalam qs. al hijr 15 ayat 9 adalah 3 Keistimewaan Al Qur'an Kelebihan dan Keistimewaan Al Quran

Rabu, 14 Oktober 2020

Biografi KH. Hasyim asy'ari

Kiai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari (lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871 – meninggal di Jombang, Jawa Timur, 21 Juli 1947 pada umur 76 tahun; 24 Dzul Qo'dah 1287 H- 7 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia[3] yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.
Www.el-madani.com


Senin, 12 Oktober 2020

Sejarah Simbah Kyai Nur Iman Mlangi Atau Raden Sandiyo

 Sejarah Mbah Kyai Nur Iman Mlangi / KGPH Sandeyo 

 


 

silsilah Mataram Kertosuro ( Pustaka darah ) Silsilah Kyai Nur Iman / R. Sandeyo Mlangi

Dusun Mlangi berada di Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, terletak di sebelah Barat Kota Yogyakarta. Dusun Mlangi merupakan salah satu pusat pondok pesantren yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mlangi didirikan oleh KH Nur Iman/ Raden Sandiyo

Pada tanggal 06 Juli 1704, Pangeran Puger yang mempunyai nama asli Raden Mas Drajat ( Beliau adalah putera dari Amangkurat I dengan isteri permaisuri keturunan Keluarga Kajoran ) diangkat menjadi raja bergelar Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa atau disingkat dengan Pakubuwana I. menurut catatan sejarah, Pangeran Puger juga pernah menyandang gelar sebagai Amangkurat II dikarenakan adanya pertentangan antara kakak pangeran Puger yang bernama Raden Mas Rahmat dengan Amangkurat I (Ayahanda mereka ), sehingga Pangeran Puger diangkat menjadi Putera Mahkota. Ketika terjadi pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1677, Mas Rahmat menolak ditugasi ayahnya untuk mempertahankan kraton Mataram Kertosuro yang pada saat itu beribukota di Plered. Ia memilih mengungsi kearah Barat. Pangeran Puger kemudian tampil melaksanakan tugas itu sebagai bukti bahwa tidak semua keturunan Kajoran mendukung Trunojoyo. Dengan kejadian inilah kemudian Pangeran Puger menyandang gelar Amangkurat II. Namun , karena kekuatan pemberontak yang sangat besar akhirnya Pangeran Puger menyingkir ke Jenar. Di sana Beliau mendirikan kerajaan Purwakanda dan berpusat di Jenar. Ia mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan Ingalaga. Setelah Trunojoyo kembali ke Kediri, Susuhunan Ingalaga segera merebut Plered dan mengusir anak buah Trunojoyo yang ditempatkan di kota itu.

Amangkurat I meninggal di daerah Tegalwangi / Tegalarum. Raden Mas Rahmat menjadi Raja tanpa Tahta dengan Gelar Amangkurat II. Hal Ini disebabkan karena Plered sebagai ibukota Mataram saat itu diduduki dan dipertahankan oleh Pangeran Puger ( Amangkurat II ) yang lebih memilih mempertahankan Plered daripada mengungsi.

Amangkurat II Raden Mas Rahmat kemudian memilih membangun Kraton baru dengan nama Kartosuro pada bulan September 1680. Ia kemudian memanggil Susuhunan Ingalaga / Amagkurat II Pangeran Puger untuk bergabung dengannya, akan tetapi oleh Pangeran Puger ditolak, sehingga terjadilah perang saudara. Pada tanggasl 28 November 1681.


Susuhunan Ingalaga Amangkurat II Pangeran Puger menyerah kepada Jacob Couper, pemimpin pasukan VOC, yang membantu Amangkurat II Raden Mas Rahmat. Susuhunan Ingalaga kemudian kembali bergelar Pangeran Puger dan RM Rahmat bergelar Amangkurat II. Berdasar peristiwa inilah Kyai Nur Iman Mlangi kadang juga disebut sebagai Amangkurat III, akan tetapi bukan Amangkurat Jawa, karena Amangkurat Jawa yang ada dalam sejarah adalah RM. Suryo Putro ( putra Pengeran Puger/ Ayah Kyai Nur Iman Mlangi ).


Antara Amangkurat II RM. Rahmat dan Pangeran Puger memiliki perbedaan sikap yang sangat mencolok. Amangkurat II cenderung bersifat lemah hati dan tidak teguh pendirian, sedangkan Pangeran Puger bersifat sangat tegas. Maka gelar Amangkurat II pada saat itu seperti simbol belaka, karena yang lebih banyak menjalankan roda pemerintahan saat itu adalah Pangeran Puger yang memang ditunjuk sebagai tangan kanan Amangkurat II RM. Rahmat.


Pangeran Puger wafat pada tahun 1719.

Salah satu putera Pangeran Puger adalah RM. Suryo Putro. Dikisahkan ia meninggalkan kraton Mataram menuju ke arah timur / brang wetan, tepatnya sampai di Pondok Pesantren Gedangan Surabaya yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin. Hal ini dikarenakan adanya perebutan tahta dan perselisihan antar saudara di kalangan istana yang merupakan ulah adu domba Belanda. RM. Suryo Putro kemudian menjadi santri disana dengan berganti nama M. Ihsan. Pada suatu saat tepatnya dalam kegiatan rutin selapanan ( 35 hari sekali ) yang diadakan di ponpes tersebut, diadakan pengajian yang tanpa disangka dihadiri oleh Adipati Wironegoro ( ini adalah gelar anugrah yang diberikan Amangkurat II kepada Untung Suropati yang ikut membantuh dalam pembunuhan Pimpinan Kompeni yang bernama Kapten Tack), M. Ihsan menjadi ketua santri dan ikut menghidangkan hidangan untuk para tamu yang hadir. Saat mondar mandir di depan Adipati tersebut, ia diamati oleh sang Adipati. Karena merasa bahwa adipati pernah bertemu sebelumnya dan yakin bahwa santri tersebut adalah seorang bangsawan, maka setelah pengajian selesai, sang adipati tidak langsung pulang tetapi malah menyuruh Kyai A. Muhsin untuk memanggil Santri M. Ihsan tersebut. Setelah bertemu dan bercakap- cakap akhirnya diketahuilah bahwa M. Ihsan memang seorang bangsawan. M. Ihsan dan Adipati akhirnya berpesan agar Kyai merahasiakan keberadaan M. Ihsan dan menganggap ia sebagai santri biasa agar tidak sampai ketahuan oleh keluarga kerajaan. Sebelum pulang, Adipati Wironegoro berpesan agar M. Ihsan sudi berkunjung ke kadipaten dengan menyamar.

Akhirnya pada waktu yang telah ditentukan M Ihsan bersama Kyai datang ke kadipaten dengan alasan akan menyampaikan pesan kepada adipati tersebut agar tetap merahasiakan keberadaannya kepada kelurga Kraton. Setelah beberapa waktu berjalan dan melalui pertimbangan yang matang, akhirnya diambillah kesepakatan antara Adipati, kyai A. Muhsin dan M. Ihsan untuk menikahkan M Ihsan dengan Putri Adipati tersebut yang bernama RA. Retno Susilowati. Setelah menikah, putri tersebut diboyonglah ke ponpes Gedangan.


Sementara itu, sepeninggal RM. Suryo Putro ternyata keadaan kerajaan semakin kacau hingga akhirnya terciumlah keberadaan M. Ihsan oleh keluarga Kraton. Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk menjemput pulang M. Ihsan ke Mataram. Karena itu merupakan perintah Raja, maka M. Ihsan tidak berani menolak. Sebelum ia pulang ke kraton, ia menitipkan istrinya yang sedang hamil ke kyai A. Muhsin dan berpesan "Kelak jika anaknya lahir laki laki harap diberi nama RM. Sandeyo, tetapi jika perempuan, pemberian nama terserah Kyai". Kyai juga diminta mengasuhnya dan mendidiknya hingga mumpuni, karena kelak ia kan dijemput pulang ke kraton Mataram. Ternyata bayi yang lahir itu benar laki - laki dan kemudian oleh kyai diberi nama RM. Sandeyo, selain itu oleh Kyai bayi itu juga diberi nama M. Nur Iman.


Setibanya di kraton Mataram, RM. Suryo Putro langsung dinobatkan sebagai raja bergelar Amangkurat JAWA/ Amangkurat IV. Ia memerintah pada tahun 1719 - 1726. Sebelum Beliau meninggal, Beliau teringat pernah menitipkan istri pertamanya yang sedang hamil di ponpes Gedangan yang diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin, dan mungkin anak dalam kandungan itu telah lahir dan telah dewasa. Akhirnya Beliau mengutus utusan untuk menjemput pulang anak tersebut.


Seiring waktu berlalu Nur Iman / RM Sandeyo telah tumbuh dewasa dan telah menjadi pemuda yang mumpuni dalam ilmu agama dan lainnya, hingga pada suatu saat datang lah utusan tersebut dan meminta RM Sandeyo untuk pulang ke Mataram. Akhirnya M. nur Iman mau untuk pulang, akan tetapi Beliau tidak mau pulang bersama dengan utusan tersebut. setelah pamit pada Kyai Abdullah Muhsin dan mendengarkan semua pesan nasihat dari Kyai, maka RM. Sandeyo berangkat ke Mataram dengan ditemani dua sahabat dekatnya yang bernama Sanusi dan Tanmisani. Sesuai dengan nasihat Kyai, maka sepanjang perjalanannya mereka tanpa henti berdakwah menyebarkan ilmu agama dan mendirikan Ponpes, hingga perjalan sampai ke Mataram memakan waktu agak lama. Ponpes yang didirikan M. Nur Iman antara lain ponpes yang ada di sepanjang Ponorogo dan Pacitan. Kyai Abdullah Muhsin juga mempunyai keyakinan kuat bahwa kelak M. Nur Iman akan menjadi Ulama besar dan termasyhur.


Sesampainya di Kraton, M. Nur Iman langsung sungkem kepada Ayahhandanya ( Amangkurat Jawa / IV ) dan kemudian dikenalkan kepada semua kerabat kraton , juga adik - adiknya. Selain itu ia juga dianugerahi gelar KGHP. Kertosuro dan mendapat rumah kediaman di Sukowati.

Pada saat terjadinya perang saudara antara adik - adiknya yakni Pangeran Sambernyowo / RM. Said dan Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono, juga dengan terjadinya huru - hara antara bangsa Tionghoa dengan kompeni Belanda yang terkenal dengan GEGER Pecinan, M. Nur Iman bersama sahabatnya memilih meninggalkan istana ke arah barat. Selain berdakwah, mereka juga menanamkan jiwa patriotisme melawan kompeni kepada para rakyat yang mereka temui. Perjalanan ke barat itu sampai pada daerah yang bernama Kulon Progo. kedatangannya diterima dengan senang hati oleh demang yang bernama Hadiwongso ( penguasa daerah Gegulu ), yang kemudian demang beserta keluarganya tersebut memeluk islam. Dengan sangat hormat demang tersebut memohon agar M. Nur Iman sudi menikah dengan putrinya. Akhirnya M. Nur Iman dinikahkan dengan putri nya yang bernama Mursalah, sedangkan kedua sahabatnya juga dinikahkan dengan putrinya yang lain yang bernama Maemunah ( menikah dengan Sanusi ) dan Romlah ( menikah dengan Tanmisani).


Perselisihan antar kedua saudara M.Nur Iman tersebut akhirnya berakhir dengan perjanjian di desa Giyanti pada tahun 1755, kemudian dikenal dengan perjanjian Giyanti yang isinya antara lain :

1. Kerajaan Mataram Kertosuro dibagi menjadi 2 bagian,

- dari Prambanan ke timur menjadi milik Susuhunan Pakubuwono III, beribukota di Surokarto

- dari Prambanan ke barat menjadi milik Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwana I, beribukota di Yogyakarta.

2. Pangeran Sambernyowo / RM. Said diberi kedudukan sebagai adipati dengan gelar Adipati Mangkunegara I dan diperbolehkan mendirikan sebuah Puro yang kemudian diberi nama Puro Mangkunegara.

Setelah keadaan menjadi tenteram, raja - raja yang merupakan adik dari M. Nur Iman tersebut teringat akan kakaknya yang bernama RM. Sandeyo / M. Nur Iman, kemudian masing- masing raja mengutus prajuritnya untuk mencari keberadaan M. Nur Iman.


Sementara itu , setelah demang Hadiwongso ( mertua KGPH Sandeyo / M. Nur Iman ) wafat, M. Nur Iman sekeluarga pindah ke utara, di sebelah timur Kali Progo tepatnya di desa Kerisan. Di desa inilah RM. Sandeyo bertemu dengan Sultan Hamengku Buwana I ( yang tidak lain adalah adiknya ). Sultan Hamengku Buwana I kemudian meminta agar M. Nur Iman kembali ke kraton.

Pada tahun 1776, saat Jumenengan Pangeran Mangkubumi menjadi raja Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati Ing Ngalaga Khalifatulloh Ngabdurrohman Sayidin Panotogomo ingkang Jumeneng Sepisan, yang kemudian lebih umum disebut Hamengku Buwana I, M. Nur Iman Mlangi diberi hadiah tanah oleh Hamengku Buwana I berupa tanah Perdikan / tanah bebas pajak . Tanah tersebut kemudian dijadikan desa dan dugunakan untuk pengembangan agama Islam. Didirikan pula Pondok pesantren untuk mulangi atau mengajar agama. Atas dasar kata mulangi inilah kemudian desa tersebut dikenal menjadi desa Mlangi.


Zaman Pemerintahan Hamengku Buwana I menrupakan zaman keemasan Yogyakarta Hadiningrat. Setelah Hamengku Buwana I wafat, pemerintahan digantikan oleh putranya yan g bernama RM. Sundoro yang bergelar Hamengku Buwana II. Beliau sangat nasionalis dan rela berkorban untuk rakyatnya. Terlebih dalam pengembangan agama. hal ini terlihat dengan baiknya hubungan antara ulama dan umaro pada saat itu.


Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II inilah Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman , di samping kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari. Keempat masjid tersebut adalah :

di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi

di sebelah Timur terletak di desa Babadan

di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning

Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.

Adapun pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :


Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo

Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari

Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari

Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri

Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.


Sesuai dengan Amanah Hamengku Buwana II, maka Hamengku Buwana III melakukan perlawanan kepada penjajah. Sikap patroitisme dan nasionalisme tersebut beliau wariskan kepada putranya yang bernama Kanjeng Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro dengan semangat tinggi dan keyakinan Jihad Fi sabillillah memerangi Belanda. Hal ini tercermin dari pakaian yang ia kenakan. Perang Diponegoro berlangsung pada tahun 1825 - 1830. Perang Diponegoro ini pun melibatkan anak cucu dari Mbah Kyai Nur Iman Mlangi. salahsatu putr a Kyai Nur Iman Mlangi yang gugur dalam perang ini bernama Kyai Salim. Beliau wafat di desa Ndimoyo. Selanjutnya beliau terkenal dengan sebutan Kyai Sahid.

Tipu daya licik Belanda akhirnya dapat mengakhiri perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro tertangkap di Magelang dalam sabuah perundingan. Pengawal Pribadi Pangeran Diponegoro juga iku ditangkap saat itu. Ia bernama Kyai Hasan Besari yang merupakan putra dari Kyai Nur Iman Mlangi. Mereka kemudian diasingkan ke Menado.

Setelah Perang Diponegoro berakhir, kompeni berani menghadap Hamengku Buwana III. Kompeni membujuk dan memutar balikkan fakta kepada Sultan dengan mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro dan pengikutnya adalah pemberontak. hal ini membuat pengikut Pangeran Diponegoro yang masih tersisa termasuk para putra wayah Mbah Kyai Nur Iman Mlangi tidak berani kembali ke desanya karena takut ditangkap kompeni. Di mana tempat yang dianggap aman, disanalah mereka tinggal. Sehingga secara tidak langsung terjadilah penyebaran penduduk dan keturunan dari Kyai Nur Iman Mlangi yang tidak hanya tersebar di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah saja , tetapi juga menyebar hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur, bahkan ada yang di luar Jawa. Sementara itu Mbah Kyai Nur Iman memilih tinggal di desa Mlangi sampai akhir hayatnya. Kyai Nur Iman Mlangi dimakamkan di belakang masjid. Makam tersebut kemudian terkenal denan sebutan makan Pangeran Bei / Pesareyan Kagungan Dalem Kasultanan, sehingga gapura masuk Kompeks tersebut bercirikan Kraton.

Seperti makam para Auliya' dan Ulama besar yang lain, makam Mbah Kyai Nur Iman juga banyak dikunjungi peziarah baik rombongan maupun perorangan yang berasal dari luar daerah, bahkan ada yang berasal dari luar pulau Jawa.


Putra mbah Kyai Nur Iman Mlangi ada yang diangkat sebagai Bupati Kedu, Beliau bernama Kyai Taptojani. Ada juga yang diangkat sebagai penghulu Kraton Yogyakarta. Beliau bernama Kyai Nawawi.


Sampai saat ini di desa Mlangi berdiri beberapa Ponpes yaitu :

1. PP. Al Miftah yang diasuh oleh Kyai Sirrudin dan diteruskan oleh KH. Munahar

2. PP As Salafiyyah yang diasuh oleh Kyai Masduqi dan diteruskan oleh KH. Suja'i Masduqi

3. PP. Al Falahiyyah yang diasuh oleh KH. Zamrudin dan diteruskan oleh Nyai hj. Zamrudin

4. PP. Al Huda yang diasuh oleh KH. Muchtar Dawam

5. PP. Mlangi Timur yang diasuh oleh KH. Wafirudin dan diteruskan oleh Nyai Hj. Wafirudin

6. PP. Hujjatul Islam yang diasuh oleh KH. Qothrul Aziz

7. PP. As Salimiyyah yang diasuh oleh KH. Salimi

8. PP. An Nasyath yang diasuh oleh KH. Sami'an

9. PP. Ar Risalah yang diasuh oleh KH. Abdullah

10. PP. Hidayatul Mubtadin yang diasuh oleh KH. Nur Iman Muqim


Adapun Ponpes yang ada diluar Yogyakarta dan masih keturunan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi adalah :

1. PP. Watu Congol Muntilan yang diasuh oleh KH. Ahmad Abdul Haq

2. PP. Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Abdurrahman Khudlori

3. PP. Al Asy'ariyyah Kalibeber Wonosobo yang diasuh oleh KH. Muntaha

4. PP. Bambu runcing Parakan Temanggung yang diasuh oleh KH. Muhaiminan

5. PP. Secang Sempu Magelang yang diasuh oleh KH. Ismail Ali

6. PP. Nurul Iman Jambi yang diasuh oleh KH. Sohib dan Nyai Hj, Bahriyah

7. PP. MH Nurul Iman (El Madani) Banjarparakan Rawalo Banyumas yang didirikan oleh Kyai Muhammad Djudan Dawam

Baca Juga : Sejarah Kyai Muhammad Djudan

Karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi antara lain :

1. Kitab Taqwim ( Ringkasan Ilmu Nahwu )

2. Kitab Ilmu Sorof ( Ringkasan Ilmu Sorof )

Di museum Diponegoro Magelang juga terdapat peninggalan dari Pangeran Diponegoro berupa kitab yang selalu Beliau baca. Kitab tersebut adalah kitab karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi


Pada Tahun 1953 Masjid Mlangi diserahkan kepada rakyat dan diberi nama Masjid Jami' Mlangi. Serah terima dari Hamengku Buwana IX kepada masyarakat diwakili oleh alim ulama dan tokoh masyarakat, antara lain :

1. Kyai Sirudin

2. Kyai Masduki

3. M. Ngasim


Tradisi peninggalan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi yang masih dilestarikan sampai saat ini antara lain :

1. Ziaroh / ngirim ahli kubur dengan membaca tahlil dan Al Quran, surat Al Ikhlas dan lain lain.

2. Membaca sholawat Tunjina ( untuk memohon keselamatan di dalam setiap hajatan )

3. Membaca sholawat Nariyah ( untuk memohon keselamatan pada hajatan seperti orang hamil dan lain lain )

4. Membaca kalimat Thoyyibah, tahlil Pitung Leksa ( Khususnya jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad )

5. Manakib Abdulqodiran

6. Barjanji / Rodadan

7. Sholawatan / Kojan dan lain- lain.



Untuk mengenang dan menghormati jasa Mbah Kyai Nur Iman Mlangi, para Alim Ulama dan tokoh masyarakat sepakat mengadakan khaul yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro / Muharram malam tanggal 15.

Silsilah Mataram Kertosuro ( PUSTAKA DARAH ) dan Kyai Ageng Mlangi

Brawijaya terakhir;

R. Bondan Gejawan ( Ki Ageng tarub III );

Ki Ageng Getas Pandawa;

Ki Ageng Sela;

Ki Ageng Nis;

Kyai Ageng Pemanahan;

Panembahan Senopati;

Prabu Anyokrowati;

Prabu Sultan Agung Anyokrokusumo

Prabu Amangkurat I

Prabu Amangkurat II ( Pangeran Puger )

Prabu Amangkurat IV ( Amangkurat Jawa ) RM. Suryo Putro


RM Suryo Putro menurunkan;

1. RM. Sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi / KGP Angabehi Kertosuro )

2. KPA. Mangkunegoro I

3. KPA. Danupojo

4. RA. Pringgolojo

5. K. Susuhunan PB. II Surokarto

6. KPA. Pamot

7. KPA. Hadiwidjojo

8. KPA. Hadinegoro

9. K. Ratu Madunegoro

10. K. Sultan HB. I Ngajogjakarta

11. KP. Rogo Purboyo

12. KGPA. Panular

13. KGPA. Blitar

14. RA. Surodiningrat

15. KPA. Buminoto - Sultan Dandun Mertengsari - Adipati Setjoningrat - Panembahan Bintoro

16. KP. Singosari ( KP. Joko )

17. KGPA. Mataram

18. KGP. Martoseno

19. RA. Hendronoto

20. KGPA. Selarong

21. KGPA. Prang Uledono

22. KGPA. Buminoto


RM. sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi ) mempungai 5 orang istri yaitu :

1. Garwa Gegulu, dari istri ini beliau menurunkan ;

1. RM. Mursodo

2. RM. Nawawi

3. RM Syafangatun

4. RM. TAptojani - Kyai Kedu

5. RA. Cholifah / Kyai Mansyur

6. RA. Muhammad

7. RA. Nurfakih / Murfakiyyah

8. RA. Muso - Kyai Sragen

9. RM Chasan Bisri / Muhsin Besari

10. RA. Mursilah Ngabdul Karim


2. Garwa Surati, dari istri ini beliau menurunkan ;

1. RA Muhammad Soleh

2. RM Salim / Raden Sahid 

3. RA. Jaelani


3. Garwa Kitung, dari istri ini beliau menurunkan ;

1. RA. Abutohir

2. RA. Mas Tumenggung


4. Garwa Bijanganten, dari istri ini beliau menurunkan ;

1. RA. Nurjamin


5. Garwa Putri Campa, dari istri ini beliau menurunkan ;

1. RM. Masyur Muchyidinirofingi ( Kyai Guru Loning )


Biografi Kyai Muhammad Djudan Dawam

Jika berbicara pesantren El madani maka tak lepas dari seseorang karismatik yang hijrah dari kota gudeg atau yang lebih dikenal kota pelajar yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, beliu adalah Kyai djudan dawam pendiri sekaligus pengasuh PP. Miftahul huda nurul iman yang lebih akrab bernama pesantren El madani ( kependekan dari Miftahul huda nurul iman ) kapan dimana dan bagaimana perjalanan beliu berikut Biografinya



Nama : Kyai Djudan dawam Bin KH dawam

Kelahiran 

Beliau dilahirkan di Mlangi Desa Nogotirto Kec. Gamping Sleman Yogyakarta pada 3 Januari 1951 dari pasangan suami istri yaitu kyai Dawam dan Nyai Abidah, dimana nasab keduanya bertemu di satu jalur yaitu sama-sama merupakan keturunan dari simbah Nur Iman Mlangi, yang merupakan putra mahkota yang sebenarnya kraton yogyakarta, kakak dari Hamengkubuwono ke I. yang kemudian menyerahkan tahta kepada adiknya, serta memilih hidup mandito dan menyebarkan islam serta membangun surau dan pesantren di desa mlangi tersebut, sehingga tidak heran kyai djudan kecil sangat kental dan akrab sekali dengan tradisi pesantren semenjak lahir , dimasa-masa kecil sampai menginjak usia dewasa. 

Nasab 

Dari segi nasab, beliau termasuk berdarah biru karena termasuk keturunan langsung dari Raden Sandiyo (simbah NurIman Mlangi) yang merupakan putra mahkota sebenarnya kerajaan yogyakarta.

Silsilah beliau adalah sebagai berikut : Kyai Muhammad Djudan Dawam bin KH.Dawam bin Kyai Kabir bin Simbah Sangidu bin Simbah Romli bin Raden Syahid (simbah salim) bin Simbah Nur Iman / Raden Sandiyo (kakak Hamengkubuwono ke 1)

Masa Kecil 

Meskipun kyai Djudan termasuk keluarga berdarah biru, masa kecilnya dilalui dengan kehidupan yang sederhana, semenjak umur 2 tahun sudah ditinggal wafat oleh ibundanya, sehingga tinggal dan diasuh oleh salah satu kakek beliau  yaitu mbah Zaidi, sampai umur remaja beliau kemudian tinggal dengan pamannya simbah nashar. sampai akhirnya belaiu menikah. 



Masa menuntut Ilmu 

Seperti layaknya anak-anak pada saat itu, beliau selain tekun mengaji dan mengikuti pengajian-pengajian kitab kuning khususnya di pondok pesantren Al Miftah di bawah asuhan langsung Simbah Kyai Sirrudin dan mengikuti ngaji yang diselenggarakan pesantren-pesantren yang banyak sekali tersebar di mlangi. Beliau juga sempat mengenyam pendidikan formal, mulai sekolah dasar di Sekolah Rakyat Negeri (lulus pada TA. 1962/1963), melanjutkan jenjang selanjutnya di Madrasah Tsanawiyah / Aliyah Agama Islam Negeri (M.A.A.I.N), istilah bagi sekolah PGA pada saat itu, dan lulus pada tahun 1969. Untuk menyelesaikan pendidikan PGA tersebut beliau rela menjual harta peninggalan satu satunya berupa pohon kelapa, dengan berbekal ijasah PGA tersebut yang nantinya sebenarnya beliau sempat mendaftarkan diri menjadi Pegawai Negeri Sipul (PNS), dan lolos seleksi, namun ketika tinggal menunggu SK pengangkatan, ternyata malah beliau memutuskan tidak mengambil kesempatan tersebut, dan memilih berwiraswasta dengan berdagang batik di yogyakarta. 

Setelah menyelesaikan pendidikan PGA, atas perintah simbah Kyai Sirruddin, beliau melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Al Rasyid Desa Ngumpak Dalem Kec. Dander Bojonegoro yang diasuh oleh Kyai Masyhur dan Kyai Sajidul Murtadlo . Dan setelah beberapa lama menimba ilmu di Bojonegoro tersebut, akhirnya kembali lagi ke mlangi, dan khidmah untuk menjadi pengajar di Ponpes Al Miftah sampai menikah. 

Selain itu, Almaghfurlah juga sempat menyelesaikan pendidikan strata 1 nya ketika sudah menikah dan menetap di banyumas, yaitu di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Huda Al-Azhar (STAIMA) Citangkolo Banjar pada tahun 2007. 

Dari sini bisa terlihat sekali, betapa besarnya minat beliau terhadap ilmu pengetahuan, baik formal maupun non formal.    


Masa Pernikahan

Beliau mempersunting seorang santri desa bernama Siti masrifah, kelahiran Kedungwangkal Banjarparakan Rawalo Banyumas 15 Pebruari 1968. yang akhirnya di daerah inilah keduanya bahu membahu berjuang memajukan pendidikan agama, sehingga bisa mendirikan sebuah pesantren di desa tersebut. ibu nyai masyrifah adalah termasuk keturunan tokoh yang disegani di desanya, ayahnya adalah tokoh terkaya saat itu yang sangat dermawan dan suka membantu sesama, meskipun begitu masyrifah muda tetap hidup dalam kesederhanaan dan tekun mengaji serta membantu keluarga. Dari garis ibu beliau adalah putri dari simbah Kartini yang merupakan keturunan dari simbah KH. Nahrowi, tokoh penyebar islam pertama di kedungwangkal sekaligus penggagas dan pendiri cikal bakal Masjid Nurul Huda Kedungwangkal.   

Dari pernikahan tersebut mendapatkan karunia 4 keturunan, 2 putra dan 2 putri, yaitu : 

1. Agus Muhammad Rif’an Muhajirin, menikah dengan Ning Laily Khumaeroh, dikaruniai 3 putri (Aish Basima Balqis, Ajla Basima Billah, Aqra Basima Bahira)

2. Ning Abidah Nafis, menikah dengan Agus Arif Susandi, dikaruniai 2 putri ( Farzana Zukhruf Kasyfan Naja / Fazka, Hizbina Nadzfa Tajur Rayyan / Binta)

3. Ning Khilyatul Jannah, menikah dengan Agus Abdul Basith, dikaruniai 1 putri ( Fukaina Zidna Ilma)

4. Agus Muhammad Zaky Makarim Al Manshibi.    


Perjuangan membangun pondok pesantren 

Setelah menikah dan menetap di kedungwangkal, selain berdagang, al maghfurlah sangat aktif mengikuti organisasi keagamaan, beliau aktif menjadi pengurus NU setempat, mengajar di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif NU Banjarparakan, juga istiqamah mengajar mengaji TPQ di masjid, sampai para remaja desa yang masih ingin mengaji kitab kuning di malam hari. Dari banyaknya santri desa / santri kalong yang memiliki minat besar mengaji pada malam hari, menginap di ndalem dan masjid serta pulang pada pagi harinya, hal ini diketahui pula oleh guru spiritual beliau yaitu simbah Kyai Sobari Tunjung. akhirnya melalui titah sang guru, al maghfurlah membulatkan niat dan tekat untuk mulai merintis pembangunan Pondok Pesantren Miftahul Huda Nurul Iman, berkat hasil menjual tanah yang sejatinya ingin digunakan untuk biaya pemberangkatan putra pertama beliau agus rif’an muhajirin ke Kairo Mesir, akhirnya uang tersebut dipergunakan untuk membangun asrama putra di depan Masjid Nurul Huda Kedungwangkal.  

Berdasarkan penuturan H Sholeh / H. Kisam, tokoh guru agama asal jongkeng Banjarparakan Rawalo sekaligus shahib karib Kyai Djudan, cerita pembangunan pesantren itu dimulai ketika Kyai Muhammad Djudan melalukan ziarah bersama Simbah Kyai Sobari Tunjung dan H. Sholeh (H.Kisam) ke makam Syaikh Mahfudh selok (tokoh pejuang kemerdekaan keturunan Syaikh Kahfi asal Sumolangu Lermah Abang Kebumen), sang pendiri pondok sumolangu Kebumen.  

Setelah selesai melaksanakan ziarah tersebut tiba-tiba sang guru, kyai Sobari Tunjung berkata “Mas djudan, wes wayahe gawe pondok, insya Allah arep ono pondok sing rejo ning perek kali tajum” ( mas djudan, sudah saatnya membangun pondok, insya Allah akan ada pondok yang rame / berkembang pesat di dekat sungai tajum). setelah di dawuhi oleh guru beliau tersebut akhirnya berbekal sami’na wa atha’na terhadap perintah sang guru, kyai djudan membulatkan tekat dan niat untuk memulai merintis pembangunan pondok pesantren Miftahul Huda Nurul Iman pada tahun 2004 dan diresmikan pada tanggal 22 Robi’ul Awwal 1426 H. dalam merintis pembangunan tersebut al maghfurlah sempat mendapatkan ijazah wirid melalui pengalaman ghaib , yaitu dzikir “ Hasbunallah wa ni’mal wakil “, yang sampai saat ini masih rutin di istiqamahkan sebagai wirid oleh para santri setelah shalat maghrib dan ketika mujahadah setiap hari.



Masa Akhir Hayat 

Detik detik kepulangan almaghfurlah untuk sowan menghadap kekasih beliau di rafiqil a’la, sungguh sangat menunjukkan himmah beliau yang sangat besar sekali terhadap ilmu, ta’lim wa ta’allum adalah thariqah beliau, belajar dan mengajar adalah jiwa dan raga serta ruh beliau, pada sore itu Rabu 10 desember 2014, al maghfurlan menjalani rutinitasnya sebagaimana biasa, setelah shalat ashar hendak memulai pembelajaran di Madrasah Diniyyah, beliau menertibkan para santri ketika itu dengan ngendiko “ ayo podho masuk kelas, ayo podho masuk … aku tak wudlu sik zo ning kulah “ (ayo pada masuk dulu di kelas, ayo pada masuk, tunggu saya mau wudlu dulu di kamar mandi), setelah masuk di kamar mandi masjid ternyata beliau muntah-muntah dan tak sadarkan diri, kejadian ini diketahui oleh dua orang santri  yang kemudian membawanya ke asrama pondok, dan selanjutnya di rujuk ke Rumah Sakit Banyumas, selama selama hari di rawat dalam keadaan koma ternyata yang unik, beliau seperti tersadar ketika masuk waktu sholat, dan telunjuk jari tangannya pun selalu bergerak-gerak bagaikan orang yang memberi isyarat sedang melakukan ibadah sholat, begitu seterusnya sampai akhirnya beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada siang itu, sekitar pukul 1 siang senin pon 15 desember 2014 / 22 shafar 1436 H. abah telah berpulang keharibaanya, telah damai bersama kekasihnya, beliau telah meninggalkan kita semua, namun semangatnya tetap menemani kami, keturunannya, santri-santrinya, semangat dan kasih sayang abah tidak akan pernah putus meninggalkan kami, namun akan tetap terus menemani dan menjaga kami, kami yakin dan merasakan itu abah, selamat jalan, damailah abah di taman surga yang telah disiapkan untuk panjenengan disana, sugeng tindak abah.   







Teladan Muasis Ponpes MH Nurul Iman (El Madani)

 Tauladanmu Ya Syaikhana



Alhamdulillah acara Haul Simbah KH. Nur Iman Mlangi, Simbah H. Nahrowi Dan Al Maghfurlah Romo Kiyai M. Djudan Dawam Ke 6 Serta Ultah Ponpes El-Madani Ke 16 yang diselenggarakan intern khusus keluarga Ponpes dan para santri berjalan dengan lancar.

Dalam acara haul tadi malam Agus M. Rif'an Muhajirin menyampaikan sambutannya sebagai "Shohibul Haul" sekaligus membacakan manaqib/biografi Al Maghfurlah Romo Kiyai. Banyak sekali pelajaran dari perjalanan hidup beliau (Romo Kiyai) yang dapat kita petik untuk kemudian kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah :

 Berkeyakinan kuat kepada Allah, selalu berprasangka baik kepada Allah, husnudhon atas segala yang Allah berikan, serahkan semua pada Allah, Allahlah yang akan menyelesaikan. 

 Bertawakkal dengan sepenuh hati, berjuang dengan semangat tinggi. 

 Meski bukan orang yang hafal al-Qur'an beliau termasuk ahlul qur'an, karena beliau sangat istiqomah dalam mengaji/tadarus al-Qur'an, hingga seperti orang yang hafal al-Qur'an, apabila ada santri yang salah membaca beliau dengan cekatan langsung membenarkan bacaannya, meski tanpa melihat al-Qur'an.

 Beliau adalah sosok pecinta ilmu, ghirah dalam ilmu sangatlah tinggi. Seluruh waktunya beliau dedikasikan untuk mengaji, mengajar dan berjuang. Saking cintannya dalam mengaji sesibuk apapun beliau jarang meninggalkan ngajinya jika tidak ada 'udzur, pun sama dengan shalat jama'ah. Beliau paling tidak bisa jika tidak berjama'ah dalam shalatnya, meski sedang udzur tidak dapat jama'ah di masjid bersama para santri dan masyarakat, beliau biasanya mengajak garwo atau putra-putrinya untuk berjama'ah di rumah. 

Mengaji dan shalat jama'ah bagi beliau adalah rutinitas yang sangat diutamakan, keistiqomahannya itu beliau langgengkan hingga akhir hayatnya. 

Pada saat itu, usai jama'ah shalat ashar di masjid, kemudian beliau ke kelas untuk ngaji diniyah bersama santri, belum sempat memulai pengajian, beliau berpamitan kepada kang santri hendak ke kamar mandi pondok, di sana beliau muntah-muntah dan terjatuh tidak sadarkan diri. Beliau koma beberapa hari, namun ada keunikan tersendiri disaat beliau koma, setiap masuk waktu shalat jari telunjuk beliau bergerak-gerak sendiri, mengisyaratkan seperti sedang shalat. Setelah itu kembali tidak ada gerakan. Hal itu terjadi hingga beliau kapundut, pada hari Senin, 22 Shofar. 

Semoga kita semua (para santrinya beliau) dapat meneladani serta dapat meneruskan perjuangan serta kesemangatan beliau. Aamiin.. 

Teruntuk Guru kita, Al Maghfurlah Romo Kiyai M. Djudan Dawam Lahul Fatihah.. 

#haulvirtual #ultahelmadani #santrisaklawase #santrinderekkiyai #ngajiakhlaktaranya adalah : 

 

 

Alamat Pondok Pesantren El-madani

PPDB SMA Pesantren El-madani

jadwal sholat

jadwal-sholat