Cari Blog Ini

Selasa, 30 Maret 2021

Akhlak Seorang Pelajar Terhadap Gurunya Bagian 2


Ketujuh, Pelajar sebaiknya meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki tempat non-umum (ruangan pribadi, pent.) yang di dalamnya ada pendidik, baik pendidik itu sendirian maupun bersama orang lain. Jika pelajar meminta izin dan pendidik mengetahui hal itu, namun tidak memberinya izin, maka hendaklah pelajar meninggalkan tempat dan tidak mengulangi permintaan izinnya. Jika pelajar raguragu apakah pendidik mengetahui dirinya, maka pelajar tidak boleh meminta izin lebih dari tiga kali atau tiga kali ketukan pintu.

Hendaklah pelajar mengetuk pintu (kediaman) pendidik secara pelanpelan dengan penuh sopan santun, serta menggunakan kuku jari-jemari atau jari-jemari sedikit demi sedikit (secara bertahap, pent.).

Jika pendidik memberi izin, sedangkan pelajar datang bersama rombongan (jama'ah), maka yang pertama kali masuk dan mengucapkan salam kepada pendidik adalah orang yang paling mulia dan paling tua di antara rombongan; kemudian dilanjutkan anggota rombongan yang lain.

Pelajar masuk ke kediaman pendidik dengan sikap yang sempurna, badan dan pakaian yang bersih, serta melakukan hal-hal yang dibutuhkan, misalnya memotong kuku dan menghilangkan bau (badan maupun pakaian) yang menyengat hidung: terlebih lagi jika pelajar itu bermaksud untuk belajar ilmu, karena majlis ilmu merupakan majlis dzikir, majlis pertemuan sekaligus majlis ibadah.

Jika pelajar masuk ruangan pribadi yang di dalamnya ada pendidik dan orang lain yang sedang berbincang-bincang dengannya, kemudian mereka berdua berhenti berbicara; atau jika pelajar memasuki ruangan pendidik yang sendirian, sedangkan pendidik itu sedang shalat, berdzikir ataupun belajar, kemudian pendidik berhenti melakukan semua itu; maka hendaklah pelajar diam dan tidak memulai pembicaraan dengan pendidik, bahkan sebaiknya pelajar mengucapkan salam kepada pendidik lalu pergi secepatnya, kecuali jika pendidik memerintahkannya untuk diam di situ. Jika pelajar berdiam diri di tempat itu, maka tidak perlu berlama-lama kecuali jika diperintahkan oleh pendidik.

Apabila pelajar menghadiri ruangan pendidik, sedangkan pendidik tidak sedang duduk, maka sebaiknya pelajar rela menunggu supaya dia tidak ketinggalan pelajaran; dan pelajar tidak boleh mengetuk pintu agar pendidik keluar dari ruangan. Jika pendidik sedang tidur, pelajar hendaknya sabar menunggu sampai pendidik bangun tidur; atau pelajar boleh pergi dan kembali lagi di lain waktu. Namun bersabar (menunggu) itu lebih baik bagi pelajar.

Pelajar tidak boleh meminta waktu khusus kepada pendidik untuk dirinya sendiri tanpa ada orang lain, meskipun pelajar itu berstatus pemimpin atau pembesar, karena hal itu termasuk sikap sombong dan tolol kepada pendidik dan para pelajar lain. Apabila pendidik sendiri yang meluangkan waktu tertentu atau waktu khusus untuk pelajar karena ada suatu uzur yang membuat pelajar tidak bisa mengikuti pelajaran bersama para pelajar yang lain; atau karena menurut pendidik hal itu demi kemaslahatan pelajar, maka tidak mengapa.

Kedelapan, apabila pelajar duduk dihadapan kyai, maka hendaklah ia duduk dihadapannya dengan budi pekerti yang baik, seperti duduk bersimpuh diatas kedua lututnya (seperti duduk pada tahiyat awal) atau duduk seperti duduknya orang yang melakukan tahiyat akhir, dengan rasa tawadlu’ , rendah diri, thumakninah (tenang) dan khusyu’.

Sang santri tidak diperbolehkan melihat kearah gurunya (kyai) kecuali dalam keadaan dharurat, bahkan kalau memungkinkan sang santri itu harus menghadap kearah gurunya dengan sempurna sambil melihat dan mendengarkan dengan penuh perhatian, selanjutnya ia harus berfikir, meneliti dan berangan-angan apa yang beliau sampaikan sehingga gurunya tidak perlu lagi untuk mengulangi perkataannya untuk yang kedua kalinya.

Pelajar tidak diperkenankan untuk melihat kearah kanan, arah kiri atau melihat kearah atas kecuali dalam keadaan dlarurat, apalagi gurunya sedang membahas, berdiskusi tentang berbagai macam persoalan.

Pelajar tidak diperbolehkan membuat kegaduhan sehingga sampai didengar oleh sang kyai dan tidak boleh memperhatikan beliau, santri juga tidak boleh mempermainkan ujung bajunya, tidak boleh membuka lengan bajunya sampai kedua sikunya, tidak boleh mempermainkan beberapa anggota tubuhnya , kedua tangan, kedua kaki atau yang lainya, tidak boleh membuka mulutnya, tidak boleh menggerak-gerakkan giginya, tidak boleh memukul tanah atau yang lainya dengan menggunakan telapak tanganya atau jari-jari tanganya, tidak boleh mensela-selai kedua tangannya dan bermain-main dengan mengunakan sarung dan sebagainya.

Santri ketika berada dihadapan sang kyai maka ia tidak diperbolehkan menyandarkan dirinya ketembok, ke bantal, juga tidak boleh memberikan sesuatu kepadanya dari arah samping atau belakang, tidak boleh berpegangan pada sesuatu yang berada diselakangnya atau sampingnya.. Santri juga tidak diperkenankan untuk menceritakan sesuatu yang lucu, sehingga menimbulkan tertawa orang lain, ada unsur penghinaan kepada sang guru, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang sangat jelek, dan menampakkan prilaku dan budi pekerti yang kurang baik dihadapan gurunya.

Santri juga tidak boleh menertawakan sesuatu kecuali hal-hal yang kelihatan sangat menggelikan, lucu dan jenaka, ia tidak boleh mengagumi sesuatu ketika ia berada dihadapan gurunya.

Apabila ada sesuatu hal, peristiwa, kejadian yang lucu, sehingga membuat santri tertawa, maka hendaknya jikalau tertawa tidak terlalu keras, tidak mengeluarkan suara. Ia juga tidak boleh membuang ludah,mendehem selama hal itu bisa ditahan atau memungkinkan, namun apabila tidak mungkin untuk dilakukan maka seyogianya ia melakukannya dengan santun. Ia tidak boleh membuang ludah atau mengeluarkan riya dari mulutnya, namun yang paling baik adalah seharusnya itu dilakukan dengan menggunakan sapu tangan atau menggunkana ujung bajunya untuk dipakai sebagai tempat riya’ tersebut.

Apabila pelajar sedang bersin, maka hendaknya berusaha untuk memelankan suaranya dan menutupi wajahnya dengan menggunakan sapu tangan umpamanya. Apabila ia membuka mulut karena menahan rasa kantuk (angop) maka hendaknya ia menutupu mulutnya dan berusaha untuk tidak membuka mulut (angop).

Sebagai pelajar ketika sedang berada dalam sebuah pertemuan, dihadapan teman, saudara hendaknya memekai budi pekerti yang baik, ia selalu menghormati para sahabatnya, memulyakan para pemimpin, pejabat, dan teman sejawatnya, karena menampakkan budi pekerti yang baik kepada mereka, berarti ia telah menghormati para kyainya, dan menghormati pada majlis (pertemuan). Hendaknya ia juga tidak keluar dari perkumpulan mereka, majlis dengan cara maju ataupun mundur kearah belakang, santri (pelajar ) juga tidak boleh berbicara ketika sedang berlangsung pembahasan sebuah ilmu dengan hal-halyang tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan ilmu tersebut, atau mengucapkan sesuatu yang bisa memutus pembahas ilmu.

Apabila sebagian santri (orang yang mencari ilmu) itu berbuat hal hal yang tidak kita inginkan ( jelek ) terhadap salah seorang , maka ia tidak boleh dimarahi, disentak-sentak, kecuali gurunya sendiri yang melakukan hal itu, kecuali kalau guru memberikan sebuah isyarat kepada santri yang lain utnuk melakukannya.

Apabila ada seseorang yang melakukan hal-hal yang negatif terhadap seorang syaikh, maka kewajiban bagi jamaah adalah membentak orang tersebut dan tidak menerima orang tersebut dan membantu syaikh dengan kekauatan yang dimiliki (kalau memungkinkan).

Pelajar tidak boleh mendahului gurunya dalam menjelaskan sebuah permasalahan atau menjawab beberapa persoalan, kecuali ia mendapat idzin dari sang guru.

Termasuk sebagaian dari mengagungkan seorang kyai adalah santri tidak duduk disampingnya, diatas tempat shalatnya, diatas tempat tidurnya. Seandainya sang guru memerintahkan hal itu kepada muridnya, maka jangan sampai ia melakukannya, kecuali apabila sang guru memang memaksa dan melakukan intimidasi kepada santri yang tidak mungkin untuk menolaknya, maka dalam keadaan seperti ini baru diperbolehkan untuk menuruti perintah sang guru, dan tidak adadosa. Namun setelah itu ia harus berprilaku sebagaimana biasanya, yaitu dengan menjunjung tinggi akhlaqul karimah.

Dikalangan orang banyak telah timbul sebuah pertanyaan, manakah diantara dua perkara yang lebih utama, antara menjunjung tinggi dan berpegang teguh pada perintah sang guru namun bertentangan dengan akhlaqul karimah dengan menjunjung tinggitinngi nilai-nilai akhlaq dan melupakan perintah sang guru ?

Dalam permasalahan ini, menurut pendapat yang paling tinggi (rajih) adalah hukumnya tafsil; apabila perintah yang diberikan oleh guru tersebut bersifat memaksa sehingga tidak ada kemungkinan sedikitpun untuk menolaknya, maka hukumnya yang paling baik adalah menuruti perintahnya, namun bila perintah itu hanya sekedarnya dan bersifat anjuran, maka menjunjung tinggi nilai moralitas adalah diatas segalagalanya, karena pada satu waktu guru diperbolehkan untuk menampakkan sifat menghormati dan perhatian kepada santrinya (murid) sehingga akan wujud sebuah keseimbangan (tawazun) dengan kewajiban-kewajibannya untuk menghormati guru dan berprilaku, budi pekerti yang baik tatkala bersamaan dengan gurunya.

Kesembilan, Pelajar hendaknya berbicara dengan baik kepada pendidik semaksimal mungkin. Pelajar tidak bolehberkata: "Mengapa demikian?, "Kami tidak setuju", "Siapa yang menukil ini?", "Di mana sumber rujukannya (referensinya)?", dan lain-lain. Jika pelajar ingin mengetahui semua itu, maka sebaiknya pelajar bersikap pelan-pelan untuk melakukannya; dan yang lebih utama adalah menanyakan semua itu di majlis-majlis lain.

Ketika pendidik menerangkan suatu pelajaran, pelajar tidak boleh berkata: "Bagaimana pendapat Anda?", "Saya punya pendapat, "Bagaimana pendapat Fulan", "Fulan berpendapat berbeda dengan Anda", "Pendapat ini tidak benar!", dan perkataan-perkataan sejenisnya.

Jika pendidik mengutip suatu pendapat atau dalil yang tidak jelas atau tidak benar, dikarenakan kelalaian atau kelemahan pendidik, maka hendaknya pelajar mengingatkan pendidik dengan wajah berseri-seri, tanpa merubah air muka (mimik) maupun pandangan mata; karena manusia tidak ada yang terpelihara dari kesalahan selain para Nabi AS.

Kesepuluh, Ketika pendidik menyebutkan hukum suatu kasus, suatu pelajaran cerita, atau membacakan sya'ir; sedangkan pelajar sudah menghafalnya, maka hendaknya pelajar mendengarkan pendidik dengan seksama seolah- olah ingin mendapatkan pelajaran pada saat itu; menampilkanperasaan dahaga untuk mengetahui pelajaran itu; dan bergembira layaknya orang yang belum pernah mengetahui pelajaran itu sama sekali.

Atha' RA berkata: "Sesungguhnya saya pernah mendengar Hadits dari seorang laki-laki, sedangkan saya lebih mengetahui Hadits itu dibandingkan dia; namun saya menampakkan diri di depannya sebagai seorang yang tidak mengerti sedikitpun tentang Hadits itu". 'Atho' RA juga berkata: "Sesungguhnya sebagian pemuda mendiskusikan suatu Hadits,, kemudian saya mendengarkan seolah-olah saya belum pernah mendengar Hadits tersebut; padahal saya sudah mendengar Hadits itu sebelum mereka dilahirkan".

Jika pendidik bertanya kepada pelajar di tengah-tengah memberi pelajaran, apakah pelajar hafal semua pelajaran itu, maka pelajar tidak boleh menjawab: "Ya", karena jawaban itu menunjukkan bahwa pelajar merasa tidak membutuhkan lagi kepada pendidik. Namun pelajar juga tidak boleh mengatakan "Tidak", karena jawaban itu berarti dusta. Eloknya, pelajar menjawab: "Saya senang mendengar pelajaran itu dari Bapak atau saya ingin mendapatkan pelajaran dari Bapak.

Penulis : Santri_Lawas

0 comments:

Posting Komentar

kritik saran silahkan tinggalkan, kami dengan senang hati untuk memperbaiki

 

Alamat Pondok Pesantren El-madani

PPDB SMA Pesantren El-madani

jadwal sholat

jadwal-sholat