Cari Blog Ini

Program Tahfidz terpadu, Kajian kitab, yatim piatu, Wirausaha, SMA Pesantren El madani, LPKU MPZ Darul Qur'an

Selasa, 03 Maret 2020

Butakanlah Hatimu Dari Cinta, Sebelum Cinta (Yang Hanya Berdasar Nafsu) Membutakan Hatimu Dari Segala Bentuk Kebaikan.


Butakanlah hatimu dari cinta, sebelum cinta (yang hanya berdasar nafsu) membutakan hatimu dari segala bentuk kebaikan.
Karena memang salah satu penghambat terbesar keberhasilan santri dalam tholabul 'ilmi adalah bermain hati sebelum pada waktunya. Banyak remaja yang mengorbankan masa indah belajarnya hanya sekedar untuk menuruti hawa nafsu cintanya belaka.
Jatuh cinta jaman sekarang tidak seperti jaman dulu, yang ketika memiliki rasa kepada seseorang maka hanya berani mencuri pandang dari kejauhan, berbalas senyum dalam angan, pol mentok kirim salam, tanpa berani melakukan "eksyen" yang dilarang.

Seseorang yang sedang merasai indahnya jatuh cinta harus pandai memenej hatinya, bila perlu mengikat rasa agar tidak tertuang pada cinta dan perilaku yang salah, agar tidak berakibat fatal dengan adanya kisah cinta yang membuta. Orang yang sedang dibutakan oleh cinta akan sulit menerima nasihat - nasihat baik dari siapa pun, baik oleh orangtuanya, teman, bahkan oleh gurunya sekalipun. Semuanya dibiarkan menguap begitu saja.
Jatuh cinta memang fitrah, namun mengekspresikan rasa cinta terlalu dini yang belum pada waktunya juga merupakan sesuatu yang keliru. Ketika di dalam hati sudah mulai terjangkit virus tersebut maka buru - burulah kita mengendalikannya, buru - burulah kita mengenyahkannya dari hati kita, dan tanyakan pada nurani, sudah pantaskah cinta itu kita ekspresikan sekarang?
Sudah mampukah kita mengemban rasa sengsara ketika cinta yang hadir belum pada waktunya kita gaungkan?
Sudah relakah berbagai hafalan pelajaran dan Al - qur'an yang kita bersusah payah dalam menghafalnya meredup dalam ingatan lalu menghilang?
Seperti yang didawuhkan oleh Imam Waki' (Guru Imam Syafi'i)

ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ : ﺷﻜﻮﺕ ﺇﻟﻰ ﻭﻛﻴﻊ ﺳﻮء ﺣﻔﻈﻲ - ﻓﺄﺭﺷﺪﻧﻲ ﺇﻟﻰ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ فإن الحفظ فضل من اله - وفضل الله لا يعطى لعاصى

"Saya (Imam Syafi’i) mengadu
kepada Imam Waki' tentang daya hafalku yang
buruk. Kemudian beliau (Imam waki') menyarankan saya untuk meninggalkan maksiat.
Sesungguhnya hafalan itu fadlol (anugerah) Tuhan, dan anugrah
Allah tidak akan diberikan kepada
orang yang bermaksiat"

Dan Sudah siapkah kita melihat orang terkasih kita, orang yang sangat berarti dalam kehidupan kita merasakan kekecewaan, sakit, perih dan prihatin atas ulah kita? Orang tua kita, Guru - guru kita, mereka semua yang akan paling banyak meneteskan air mata.
Tanyakan pada nurani kita, sedalam - dalamnya.

Jika cinta hadir menyapa dalam hati, cukuplah kita berucap syukur kepada Allah, dan menikmati alunan prosesnya dengan diam, dengan sabar, dengan tidak mengekspresikannya.
Bukankah mencintai seseorang dalam diam lebih nikmat? Bukankah mencintai seseorang dalam ketulusan doa yang kita rapalkan dalam kesunyian akan lebih indah?
Simpanlah rasa itu sedalam samudera jika kita mampu menyimpannya, namun buanglah rasa itu sejauh mungkin jika kita tak mampu menyimpan.
Belajarlah dari kisah cinta dalam diamnya Sayyidina Ali Radliyallahu 'anhu kepada Sayyidah Fathimah Az - zahra.

--
Nikmati masa indah saat belajar, masa indah di pesantren dengan tanpa berpacaran, dengan tanpa melanggar peraturan. Hafalan yang sudah kita rangkai dengan susah payah jangan kita pertaruhkan dan amanah besar dari orang tua kita mengirim kita untuk nyantri jangan kita sia - siakan, jangan kita kecewakan.
Semakin engkau menjaga hatimu dari kesenangan sesaat, Allah akan memberikan kesenangan yang haqiqi dalam rumah tanggamu kelak, fiddaroin.

Jomblo Sampai Nikah 
El - Madani, Sabtu 211219

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

kritik saran silahkan tinggalkan, kami dengan senang hati untuk memperbaiki