Cari Blog Ini

Program Tahfidz terpadu, Kajian kitab, yatim piatu, Wirausaha, SMA Pesantren El madani, LPKU MPZ Darul Qur'an

Selasa, 01 Desember 2020

Biografi dan perjalanan tokoh mashur IMAM AL GHAZALI

Www.el-madani.com

Imam Al Ghazali tokoh ulama besar yang menjadi rujukan bagi ulama-ulama dunia. Dan berikut biografi dan perjalanan Imam Al Ghazali, dikutip dari: apk wasiat Imam Al Ghazali
 

Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali Asy Syafi'i lahir di Thus tahun 1058 M atau 450 H adalah seorang filosof dan teolog Muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di Barat abad pertengahan. Informasi tersebut dapat dilihat dalam buku Adz Dzahabi, Siyar A'lam Nubala '19 / 323 dan As Subki, Thabaqat Asy Shafiyah 6/191.

Para ilmuwan nasab tidak satu pendapat atas disandarkannya nama Al Ghazali. Ada yang mengatakan bahwa namanya berasal dari nama daerahnya Ghazalah di Thusi, tempat dia dilahirkan. Hal ini dikuatkan oleh Al Fayumi di Al Mishbah Al Munir.

Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan mengatakan bahwa merekalah yang mencondongkan nama kakeknya dengan Al Ghazzali (ditasydid).

Ada yang bilang namanya berdasarkan mata pencaharian keluarganya dan keterampilan menenun. Jadi nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Athir dan dinyatakan oleh Imam Nawawi. Apa yang digunakan oleh para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Athir yakni Al Ghazzal dengan tasydid. Yakni nama untuk karya dan keterampilan ayah dan kakeknya.

Dia juga mendapat julukan Abu Hamid karena salah satu anaknya bernama Hamid. Adapun nama Asy-Syafi'i memperlihatkan bahwa beliau berhaluan pada mazhab Syafi'i.

Dia berasal dari keluarga miskin. Sang ayah mempunyai harapan yang tinggi agar anaknya menjadi seorang yang saleh.

 

Sifat Pribadi

Al-Ghazali memiliki memori ingatan yang kuat dan bijak dalam berhujjah sehingga dia memegang gelar Hujjatul Islam karena kemampuannya. Dia sangat dihormati baik di dunia Islam, bani Saljuk maupun Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya di berbagai bidang sains.

Imam al-Ghazali sangat menyukai sains. Dia juga mampu meninggalkan semua kemewahan hidup untuk berbaur dan berkelana dan meninggalkan kegembiraan hidup demi mencari ilmu. Sebelumnya beliau sudah mempelajari berbagai karya para ilmuwan sufi terkemuka seperti Imam Junaid Sabili dan Imam Abi Yazid Busthami.

Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Dia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah-daerah Islam besar seperti Mekkah, Madinah, Yerusalem, dan Mesir. Dia dikenal sebagai filsuf Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui karya berkualifikasi tinggi.

Sejak kecil ia telah dididik dengan karakter luhur. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia amat kuat dalam hal beribadah, zuhud, wara', serta tidak suka pada kemewahan,  kemegahan, kepalsuan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.

 

Pendidikan

Ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak mengonsumsi kecuali hasil karyanya kerajinan membuat garmen kulit. Dia mengunjungi para ahli hukum dan menahan mereka, dan memberikan hidupnya sebanyak mungkin. Saat mendengar kata-kata mereka (ahli hukum), dia menangis dan berdoa agar diajak menjadi anak faqih. Saat hadir di ruang konseling, dia menangis dan memohon kepada Allah ta'ala untuk diberi anak laki-laki yang ahli dalam ceramah pengantar.

Semoga Allah memberikan doanya. Imam Al Ghazali menjadi faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi ahli dalam memberikan ceramah saran.

Di tingkat dasar, ia mendapat pendidikan gratis dari beberapa guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang didapat di peringkat ini memungkinkannya menguasai bahasa Arab dan Persia dengan lancar. Karena ketertarikannya pada sains, ia mulai mempelajari ilmu usululuddin, ilmu mukquran, proposisi yurisprudensi, filsafat, dan mempelajari pendapat dari empat mazhab pemikiran untuk maju di lapangan yang didiskusikan oleh sekolah.

Dia mempelajari masalah Islam (al-qur'an dan sunnah Nabi). Di antara kitab-kitab hadits yang ia pelajari, antara lain Sahih Bukhori dari Abu Sahl Muhammad bin Abdullah Al Hafshi, Sunan Abi Daud dari Al Hakim Abu Al Fath Al Hakimi, Maulid Seorang Nabi dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Khawani dan Shahih Al Bukhari dan Shahih Al Muslim dari Abu Al Fatyan 'Umar Al Ru'asai.

Imam Al Ghazali mulai mempelajari yurisprudensi Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian pergi ke Jurjan untuk mengambil pengetahuan dari Imam Abu Nasr Al Isma'ili dan menulis buku At Ta'liqat. Lalu kembali ke Thusi.

Dia pergi ke kota Naisabur dan belajar untuk menemui Imam Haramain Al Juwaini dengan sungguh-sungguh. Jadi berhasil menguasai dengan baik yurisprudih sekolah Syafi'i dan fikih khilaf, debat sains, ushul, manthiq, hikmah dan filosofi. Ia juga mengerti kata-kata para ulama tersebut dan menolak orang yang disisetinya. Buat tulisan yang membuat kagum gurunya, Al Juwaini.

Setelah Imam Haramain meninggal, Imam Ghazali pergi ke kamp Wazir Nidzamul Malik. Karena majelis itu merupakan tempat berkumpulnya para ilmuwan, maka dia menantang debat tersebut kepada ulama dan mengalahkan mereka.

Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya sebagai guru di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Jadi pada tahun 484 dia pergi ke Baghdad dan mengajar di Madrasah Nidzamiyah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) pada usia tiga puluhan. Di sinilah dia berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai posisi yang sangat tinggi.

Setelah beberapa tahun, kembali ke negaranya dengan studinya dan terus waktunya untuk beribadah. Dia mendirikan madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Dia menghabiskan sisa waktunya untuk membaca Alquran, berkumpul dengan para pemuja, mengajar penggugat sains dan melakukan shalat dan puasa dan ibadah lainnya sampai mati.

Dia telah melakukan perjalanan ke tempat-tempat seperti Mekah, Madinah, Mesir dan Yerusalem untuk bertemu dengan para ilmuwan di sana untuk mengeksplorasi pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan tersebut, ia menulis buku Ihya Ulumuddin yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.

 

Pengaruh Filsafat

Pengaruh filsafat dalam dirinya begitu kental. Dia menyusun sebuah buku yang berisi kecaman terhadap filsafat, seperti buku At Tahafut yang membongkar keburukan filsafat. Tapi dia menyetujui mereka dalam beberapa hal yang menurutnya benar. Hanya saja kehebatannya tidak didasarkan pada ilmu atsar dan keterampilan dalam hadis Nabi yang bisa menghancurkan filsafat.

Ia juga gemar meneliti Ikhwanush Shafa dan buku-buku Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syekh Ibnu Taimiyah mengatakan, "Al Ghazali dalam kata-katanya sangat dipengaruhi oleh filosofi karya Ibn Sina di Asy Syifa ', Laporan Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi. Hal ini terlihat jelas dalam bukunya Ihya' Ulumuddin Jadi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Kata-katanya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Tapi di dalamnya ada isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita palsu Sufiyah dan hadis palsu. "

Itulah Sang Imam dengan kecerdasannta dan kepakarannya dalam ilmu tasawuf, fiqih, serta ushul, namun masih sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.

Adz Dzahabi berkata, "Orang ini (Al Ghazali) menulis buku tersebut dengan mencela filsafat, yaitu At At Tahafut. Dia menolak keburukan mereka, namun dalam beberapa hal setuju, dengan prasangka yang benar dan religius. Dia tidak memiliki pengetahuan tentang atsar dan dia bukan ahli hadits Nabi Sallallaahu 'alaihi wa sallam yang bisa mengarahkan pikirannya, dia suka membedah dan meneliti Ikhwanush Shafa, buku ini adalah penyakit berbahaya dan racun mematikan.Jika Abu Hamid bukan seorang jenius dan mukhlis, dia akan binasa "(Siyar A'lam Nubala 19/328).

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Abu Hamid cenderung pada filsafat, tampak dalam bentuk tasawuf dan seperti ekspresi Islam (syar'i). Oleh karena itu, cendekiawan Muslim menyangkalnya. Sampai murid terdekatnya, Abu Bakr Ibnul Arabi mengatakan , "Guru kami Abu Hamid masuk ke dalam perut filsafat, lalu ingin keluar dan tidak mampu membelinya" (Majmu 'Fatawa 4/164).

Diantara karangan beliau, terdapat dua buah yang kurang dikenali di negara kita, akan tetapi sangat terkenal di dunia Barat. Malah menyebabkan pecah perang pena antara ahli falsafah yaitu kitab “Maqashidul falasifah” (Ahli-ahli falsafah) dan “Tahafutul falasifah” (Kesesatan ahli-ahli falsafah).

Buku pertama berisi ringkasan berbagai ilmu filsafat dan mantika, metafisika, dan fisik. Buku ini telah diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvus ke bahasa Latin pada akhir abad ke 12 M. Buku kedua memberi kritik tajam terhadap sistem filsafat yang telah dijelaskan satu per satu di buku pertama.

Al Ghazali sendiri menjelaskan dalam buku kedua, bahwa tujuan penulisan buku pertama adalah mengumpulkan terlebih dahulu materi bagi pembaca, dan yang kemudian dia akan kritik satu per satu di buku kedua.

Beberapa dekade kemudian lahir di Andalusia (Spanyol) Ibn Rusyd, seorang filsuf Cordovan (1126-1198). Dia membantah pendirian Al Ghazali dalam filsafat dengan membuat sebuah buku yang dia namakan "Tahafutu-tahafutil falasifah" (Kesalahan buku Tahafutul falasifah Al Ghazali)

Dalam buku ini Ibn Rusyd telah menjelaskan kesalahpahaman tentang Al Ghazali tentang apa yang disebut filsafat dan beberapa kesalahpahaman tentang pokok permasalahan filsafat.

Dengan demikian telah beredar dua buku di dunia Islam, satu menyerang dan menghancurkan filsafat dan yang lainnya mempertahankan filosofi itu. Keduanya berjuang secara aktif di dunia Muslim dan menunggu waktu mereka, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

Selain ketenaran dan keagungan yang dimiliki Al Ghazali, thesis Tahafutul falasifah di tengah umat manusia dengan gaya hidup yang semarak. Jadi tulisan Ibn Rushd menjadi lumpuh melawan kekayaan Al Ghazali. Jadi akhirnya dalam pertarungan pemikiran alam ini, Al Ghazali tampil di tengah arena kemenangan.

Sebagai filosofi, Al Ghazali mengikuti sekolah filosofis yang bisa disebut "hissiyat madzhab" yang kira-kira sama dengan sekolah perasaan. Seperti filsuf Inggris David Hume (1711-1776) yang berpendapat bahwa perasaan menentang arus rasionalisme, bahwa satu aliran filsafat yang muncul pada abad ke-18 Masehi, yang hanya didasarkan pada pemeriksaan kelima indra dan akal manusia.

Al Ghazali telah menyatakan pendapat ini, selama 700 tahun sebelumnya dari David Hume. Dia mengakui bahwa perasaan itu mungkin salah, tapi pikiran manusia juga tidak terpelihara dari kesalahan dan kesalahan. Dan tidak bisa mencapai kebenaran yang disempurnakan dengan sendirinya sendiri. Dan tidak mungkin dibiarkan bergerak dengan segenap pengetahuannya sendiri. Kemudian akhirnya Al Ghazali kembali ke apa yang dia sebut "dlaruriat" atau aksioma sebagai hakim akal dan perasaan dan tuntunan yang berasal dari Allah SWT.

Al Ghazali tidak kurang mengintip filsafat Socrates, Aristoteles dan membahas masalah sulit dengan cara yang halus dan tajam. Tak kurang ia juga menyebarkan ilmu mantis dan menyusun ilmu uji kalam yang tahan terhadap perbandingan para filsuf lainnya. Semua ini menunjukkan ketajaman otaknya. Selain itu, dia tidak segan mengatakan dengan kerendahan hati dan kesungguhan kata-kata "wallahhu a'lam" berarti "Tuhan yang Maha Mengetahui"

Pada zaman Al Ghazali, masih ada konflik antara mistikus tasawuf dan ahli hukum. Jadi salah satu upaya Al Ghazali adalah menggertak dua kelas yang berlawanan. Entah selama masa hidupnya atau setelah kematiannya, Al Ghazali mendapatkan persahabatan dan pengertian, selain lawan yang menentang pendiriannya. Yang tidak familiar, di antaranya adalah Ibn Rusyd, Ibn Thaimiyah, Ibn Qayyim dan yurisprudensi lainnya. Di dunia barat, Al Ghazali mendapat perhatian besar, diberikan oleh para filsuf. Diantaranya Renan, Cassanova, Carra de Vaux dan lain-lain.

 

Polemik Kejiwaan Imam Ghazali

Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Sampai-sampai di dalam hatinya muncullah perang batin yang mengakibatkan beliau hobi mempelajari ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai'dah pada tahun 488 H ia naik ziarah dan mengangkat adiknya bernama Ahmad sebagai penggantinya.

Pada tahun 489 H memasuki kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian mengunjungi Baitul Maqdis untuk sementara waktu, dan kembali ke Damaskus beri'ikaf di menara barat masjid Jami 'Damaskus. Dia duduk banyak di sudut tempat Syaikh Nasr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami 'Umawi (sekarang disebut Al Ghazaliyah). Tinggallah di sana dan tulislah buku Ihya Ulumuddin, Al Arba'in, Al Qisthas dan Mahakkun Nadzar. Latihlah jiwa dan kenakan pakaian ahli ibadah. Dia tinggal di Sham sekitar 10 tahun.

Dalam buku 'Ihya' 'Ulumuddin ada Hadis Nabi Muhammad SAW sedemikian rupa sehingga Al-Ghazali jika ingin meletakkan Hadis Nabi SAW, mencium hadis sebelumnya, jika Hadis harum maka Al-Ghazali menulisnya di buku' Ihya '' Ulumuddin, jika tidak maka Al-Ghazali tidak menuliskannya.

Ibnu Asakir berkata, "Abu Hamid rahimahullah telah berziarah dan tinggal di Sham selama sekitar 10 tahun. Dia menulis dan merayakan dan tinggal di menara barat masjid Jami 'Al Umawi. Mendengarkan Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi . "

 

Masa Akhir Kehidupannya

Akhir hayatnya dihabiskan untuk mempelajari ulang hadis dan berkumpul dengan para ahlinya. Kata Imam Adz Dzahabi, "Di akhir hidupnya, dia dengan rajin menuntut ilmu hadis dan berkumpul dengan para ahlinya dan memeriksa shahihain (Sahih Bukhari dan Muslim). Jika dia telah berumur panjang, dia bisa menguasai segala sesuatu di Tidak ada waktu, dia tidak sempat menceritakan hadis dan tidak memiliki anak selain beberapa putri. "

Abul Faraj Ibnul Jauzi menceritakan kisah kematiannya di kitab Ats Tsabat Indal Mamat, mengutip kisah Ahmad (saudaranya); Saat fajar pada hari Senin, saudaraku Abu Hamid melakukan wudhu dan shalat, lalu berkata, "Bawa aku ke sini dengan kafanku." Kemudian dia mengambilnya dan menciumnya dan memasukkannya ke matanya, dan berkata, "Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut." Peregangan kakinya dan menghadap kiblat. Ia meninggal sebelum langit berubah kuning (menjelang pagi). (Dinukil oleh Adz Dzahabi di Siyar A'lam Nubala 6/34). Dia meninggal di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H bersamaan dengan tahun 1111 M di Jadi dan dikuburkan di pemakaman Ath Thabaran. (Thabaqat Asy Syafi'iyah 6/201).

 

Murid-Murid Imam Al Ghazali

Imam Al Ghazali mempunyai banyak murid, karena beliau mengajar di madrasah nidzhamiyah di Naisabur, diantara murid-murid beliau adalah :

Abu Thahir Ibrahim Ibn Muthahir Al- Syebbak Al Jurjani (w.513 H).


Abu Fath Ahmad Bin Ali Bin Muhammad Bin Burhan (474-518 H), awalnya dia berhaluan madzhab Hambali, kemudian setelah beliau belajar kepada imam Ghazali, beliau bermadzhab Syafi’i. Diantara karya-karya beliau al ausath, al wajiz, dan al wushul.


Abu Thalib, Abdul Karim bin Ali Bin Abi Tholib Al Razi (w.522 H), dia bisa menghafal kitab ihya’  disamping juga mempelajari fiqh kepada imam Al Ghazali.


Abu Hasan Al Jamal Al Islam, Ali Bin Musalem Bin Muhammad Assalami (w.541 H). Karyanya ahkam al khanatsi.


Abu Mansur Said bin M. Umar (462-539 H), di belajar ilmu fiqih kepada Sang Imam sampai menjadi ‘ulama besar di Baghdad.


Abu Al Hasan Sa’ad Al Khaer Bin Muhammad Bin Sahl Al Anshari Al Maghribi Al Andalusi (w.541 H). beliau belajar fiqh pada imam Ghozali di Baghdad.


Abu Said Muhammad bin Yahya (476-584 H), dia juga belajar ilmu fiqih kepada Sang Guru serta menghasilkan karya diantaranya adalah al mukhit fi sarh al wasith fi masail, al khilaf.


Abu Abdullah Al Husain Bin Hasr Bin Muhammad (466-552 H), beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali. Diantar karya-karya beliau adalah minhaj al tauhid dan tahrim al ghibah.


Dengan demikian imam al ghozali memiliki banyak murid. Diantara murid–murid beliau kebanyakan belajar fiqih dan menjadi ulama besar dan pandai mengarang kitab.

 

Hasil karya Imam Ghazali

Ia meninggalkan pusaka yang tidak dapat dilupakan oleh ummat Muslimin khususnya dan dunia umumnya dengan karangan-karangan yang berjumlah hampir 300 buah banyaknya. Diantaranya kitab Ihya yang terdiri dari empat jilid besar. Kitab Ihya amatlah terkenal di dunia. Di Eropa, kitab ini mendapat perhatian besar sekali dan telah dialih bahasa ke dalam beberapa bahasa modern.


Dalam bidang tasawuf
- Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)
- Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)
- Misykah al-Anwar (lampu yang bersinar)


Dalam bidang filsafat
- Maqasid al-Falasifah (tujuan para filusuf)
- Tahafut al-Falasifah (kekacauan pikiran para filusifi), buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).


Dalam bidang fiqih
- Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul


Dalam bidang logika
- Mi`yar al-Ilm (kriteria ilmu-ilmu)
- Al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
- Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)


Karangan kitab Al-Imam Al-Ghazali lainnya
- Al-Munqid Mina Ad-Dholal (penyelamat dari kesesatan)
- Al-Iqtisod Fi Al-I'tiqod (kesederhanaan dalam beri’tiqod)
- Mizan Al-Amal
- Fadhoih Al-Bathiniyah
- Faishol At-Tafarruq Bayna Al-islam Wa Az-Zindiqoh
- Al-Maqshod Al-Asna Fi Syarh Asma'ul husna
- Al-bhasith
- Al-Wasith (Yang pertengahan)
- Al-Wajiz (Yang ringkas)
- Al-Mankhul (pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih)
- Jawahir Al-Qur'an
- Yaqut Atta'wil Fi tafsir Attanzil (permata ta’wil dalam menafsirkan al qur’an)
- Minhaj Al-'Abidin (jalan mengabdikan diri terhadap tuhan)
- Al-Arba'in Fi usuluddin
- Maskatul Anwar
- Ad-duror Al-fakhiroh Fi Kasfi 'ulum Al-akhiroh
- 'Iljam Al-Awam 'an 'ilmi Al-Kalam
- Bidayah Al-Hidayah
- Tahzib al ushul (elaborasi terhadap ilmu ushul fiqih)
- Syifa (obat orang dengki penjelasan tentang hal-hal samar serta cara-cara penglihatan).
- Tarbiyatul aulad fi islam (pendidikan anak di dalam islam)
- Az-zariyah ilaa’ makarim asy syahi’ah (jalan menuju syariat yang mulia)
- Al hibrul Masbuq (barang logam mulia uraian tentang nasehat kepada para raja)
- Al-ma’arif al-aqliyah (pengetahuan yang nasional)
- Akhlak al abros wa annajah min al asyhar (akhlak orang-orang baik dan kesalamatan dari kejahatan).
- Assrar ilmu addin (rahasia ilmu agama).


Baca juga:

 

MENGAGUNGKAN ILMU DAN AHLI ILMU / GURUNYA ( Kitab Ta'lim Muta'alim, SMA Pesantren El madani )

BU NYAI PESANTREN TOKOH UTAMA DIBALIK LAYAR

Sejarah Simbah Kyai Nur Iman Mlangi Atau Raden Sandiyo

Biografi Kyai Muhammad Djudan Dawam


Donasi pesantren Tahfidz Terpadu

Pondok pesantren MH Nurul Iman El madani

No. Rekening BRI :
a. n: Ponpes MH. Nurul Iman
3764-01-022640-53-2

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

kritik saran silahkan tinggalkan, kami dengan senang hati untuk memperbaiki