Logo Yayasan Nurul Iman Rawalo

Lembaga pendidikan Pesantren Dan pendidikan Formal

Logo Pondok Pesantren MH Nurul Iman (El Madani)

Kedungwangkal, Banjarparakan, Rawalo, Banyumas, Jawa Tengah.

Logo SMA Pesantren El Madani Rawalo

Pendidikan Berbasis Pesantren.

Logo LPKU

Lembaga Pemberdayaan Kesejahteraan Umat

Logo ELSA

El Madani Safari Tour, Melayani Umroh dan Haji Plus

Cari Blog Ini

Senin, 19 April 2021

Kisah perjalanan Nabi Sholeh


Shaleh diutus Allah untuk berdakwah dan menyerukan kebenaran kepada kaum Tsamud. Shaleh sendiri masih ada hubungan saudara dengan Tsamud, sama-sama keturunan Sam bin Nuh. Adapun silsilah Shaleh: Shaleh bin Abid bin Asif bin Masyih bin Abid bin Hadzir bin Tsamud bin Shaleh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Sedangkan silsilah Tsamud: Tsamud bin Ad bin Irmi bin Shaleh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh.

Jadi, Tsamud adalah keturunan Ad. Tsamud ini kemudian beranak pinak, bercucu banyak sehingga terbentuklah suatu kaum atau suku yang disebut kaum Tsamud. Sedangkan, Shaleh adalah anak dari Abid, keturunan Tsamud.
Kaum Tsamud menghuni daerah Hadramaut, yakni daratan antara Yaman dan Syam (Syria). Kaum Tsamud ini mempunyai ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan dalam bercocok tanam dan beternak. Dengan keahlian itu, mereka hidup makmur di Hadramaut. Semua itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada mereka.
Tidak hanya itu, mereka pun diberi kekuatan fisik yang tangguh. Mereka sanggup mengukir gunung-gunung untuk dijadikan pemandangan indah. Mereka membangun gedung-gedung tinggi. Mereka juga membuat rumah-rumah di tebing-tebing gunung yang dilubangi dan dipahat.
Namun, kaum Tsamud tidak mengenal tuhan. Berhala yang mereka buat sendirilah yang mereka jadikan tuhan. Hukum yang berlaku pun hukum rimba. Hukum yang bertentangan dengan kemanusiaan. Gaya hidup mereka menyimpang jauh dari kebenaran dan kemanusiaan. Orang-orang kaya hidup berfoya-foya, bermabuk-mabukan, berzina, dan lain-lain. Perampokan terjadi disana-sini. Penganiayaan dan perbuatan zalim dapat dijumpai setiap hari. Orang yang lemah menjadi budak dan diperlakukan tidak manusiawi.
Kemudian, Allah mengutus Shaleh kepada kaum Tsamud. Nabi Shaleh berkata, "Wahai Saudaraku, kaum Tsamud, kebiasaanmu menyembah berhala itu sangat keliru. Sesungguhnya, Tuhan yang wajib kalian sembah adalah Allah."
"Hai Shaleh! Siapakah Allah itu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Dia adalah Tuhan sekalian manusia, sekalian makhluk. Dialah yang berkuasa atas segala-galanya. Dialah tempat meminta ampunan, tempat memohon pertolongan dari kesulitan," kata Nabi Shaleh menjelaskan.
"Coba tunjukkan dimana Tuhanmu itu. Bagaimana wujudnya, apakah sama dengan tuhan-tuhan kami?"
"Masya Allah, kalian sungguh keterlaluan. Kalian tidak akan mampu melihat wujud Allah," jawab Nabi Shaleh.
"Pembual! Omong kosong kau, hai Shaleh. Aku tidak memercayai omonganmu sedikit pun sebelum kau menunjukkan bukti, mukjizatmu kepada kami. Tunjukkanlah bukti-bukti kehebatanmu sebagai nabi utusan Tuhanmu itu! Baru kami akan memercayai dan mengikutimu!" kata orang-orang Tsamud. Dialog ini diterangkan di dalam Al Quran Surah Huud (11):61-62.
Kaum Tsamud tidak menghiraukan perkataan Nabi Shaleh. Mereka bahkan menganggap Nabi Shaleh gila, terkena sihir atau kerasukan setan sehingga omongannya ngawur. Mereka hanya akan percaya bila Nabi Shaleh bisa menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Maka, Nabi Shaleh pun memohon kepada Allah untuk memberikan mukjizat.
Saat itu pula Allah memerintahkan Nabi Shaleh untuk memukulkan tangannya ke atas permukaan batu yang ada di depannya. Setelah Nabi Shaleh melakukannya, muncullah unta yang gemuk, besar, dan bagus. Tentu saja, kandungan susunya banyak. Orang-orang Tsamud terperanjat semuanya. Saking herannya, mereka bergumam bagaikan suara lebah.
Nabi Shaleh lalu berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, inilah tanda bahwa aku adalah Nabi pesuruh Allah. Sembahlah Allah, dan tinggalkanlah berhala-berhala itu. Kalian jangan mengganggu unta ajaib ini. Binatang ini perlu minum sebagaimana kalian minum. Jika kalian menginginkan susunya, silakan memerahnya!" kata Nabi Shaleh menerangkan. Kisah tentang unta ajaib ini ada di dalam Al Quran Surah Asy-Syu'araa' 26:155-159.
Sejak awal, Nabi Shaleh telah memperingatkan kaum Tsamud. Mereka dilarang mengganggu unta itu, apalagi membunuhnya. Sebab, unta itu bukan sembarang unta, melainkan mukjizat dari Allah. Jika sampai ada yang membunuhnya, dikhawatirkan Allah akan murka.
Sejak itulah, sang unta berkeliaran. Ia berpindah-pindah tempat kemana pun ia suka. Setiap hari, orang-orang antre untuk mendapatkan susunya. Anehnya, susu itu keluar terus walaupun banyak orang yang memerahnya.
Pembunuhan Unta
Dengan hadirnya unta itu, sebagian dari mereka merasa senang. Hal ini karena mereka bisa mendapatkan susu setiap hari. Namun demikian, diam-diam ternyata ada beberapa orang yang sangat tidak menyukai kehadiran unta ajaib itu. Mereka adalah orang-orang yang sudah sejak lama tidak menyukai Nabi Shaleh.
Pada suatu malam, mereka berunding untuk membunuh unta tersebut. Mereka khawatir jika unta itu dibiarkan terus hidup, akan semakin banyak orang yang beriman dan mengikuti nabi Shaleh. Akhirnya, para pemimpin orang-orang kafir sepakat untuk melenyapkan unta Nabi Shaleh. Kemudian, mereka menunjuk seorang pemuda berbadan kekar untuk melaksanakan tugas itu.
Keesokan harinya, tatkala matahari muncul di ufuk timur, orang-orang berbondong-bondong mengambil air di telaga sebagaimana biasanya. Setelah itu, para penduduk menyambut kedatangan unta. Lalu, mereka memerah susunya secara bergiliran. Orang-orang kafir yang fanatik kepada berhalanya semakin panas hati. Diam-diam, seorang pemuda kafir sedang menanti saat yang tepat untuk membunuh unta itu. Ketika orang-orang sudah meninggalkan unta itu, si pemuda pun membunuhnya.
Setelah mengetahui untanya disembelih, Nabi Shaleh marah bukan main. Ia segera menuju telaga. Sesampainya disana, Nabi Shaleh berkata, "Wahai kaumku! Siapakah yang berani-beraninya membunuh unta ajaib itu?"
Pemuda yang membunuh unta itu berkata, "Akibat untamu itu, telaga menjadi kotor. Orang-orang tergila-gila pada air susunya. Kamilah yang membinasakannya."
"Apakah engkau tidak ingat? Aku telah memperingatkan, jangan sekali-kali kalian mengganggu unta itu. Apalagi sampai membunuhnya. Bila kalian melakukannya, berarti kalian siap menerima azab dari Allah," kata Nabi Shaleh.
"Mana mungkin Tuhanmu bisa mengirim azab. Buktikan! Kami ingin tahu dan merasakan!" tantang mereka.
Kehancuran Kaum Tsamud
Setelah tantangan kaum Tsamud itu, Nabi Shaleh memberi tahu bahwa azab akan datang tiga hari lagi. Hal ini dijelaskan Allah dalam Surah Huud (11):65, "Mereka membunuh unta itu. Maka berkatalah Nabi Shaleh, "Bersukarialah kamu sekalian di rumah selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan."
Pada hari pertama setelah pembunuhan unta, masih terasa biasa-biasa saja. Hari kedua pun sama. Akhirnya, pada hari ketiga, janji Allah datang. Langit menjadi gelap. Orang-orang mulai panik. Sementara Nabi Shaleh dan pengikutnya, orang-orang beriman sudah pergi menyelamatkan diri. Petir pun menyambar orang-orang kafir.
Al Quran mengatakan, "Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhanny, lalu mereka di sambar petir sedang mereka melihatnya." (QS. Adz-Dzaariyaat (51):44).
Mereka juga diguncang gempa. Mereka pun mati di dalam rumah mereka. Allah berfirman, "Karena itu mereka ditimpa gempa. Karena itu, jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." (QS. Al-A'raaf[7]:78).

Copy By: FB
Santri Babakan

Sabtu, 10 April 2021

Ke ekonomian Pondok pesantren El-Madani


Ekonomi merupakan tonggak utama dalam kita melangkah, terutama dalam lembaga yang berbasis Agama.
Dalam menopang sektor perekonomian dan kemajuan, Pondok pesantren El-Madani memiliki Unit usaha percetakan, Mandiri grafika El-madani dan toko grosir madani mart, serta BBM Air minum isi ulang, juga Pertanian. Semua itu dikelola oleh tenaga profesional baik dari mitra kerja, Alumni serta Santri.

Adanya unit usaha tersebut untuk memenuhi kebutuhan pondok dan santri , terutama bagi Yatim/Yatim piatu, Hafidz/Hafidhoh, yang semua mendapatkan Beasiswa/bebas biaya. Bisyaroh Asatid, dan kesejahteraan Santri serta Masyarakat sekitar.

LPKU El-madani yang menjadi Mitra PPPA Daarul Qur'an, sebagai pengelola Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf, merupakan salah satu lembaga milik pondok pesantren El-madani, yang bertujuan untuk menyalurkan titipan para dermawan, para Ahli Ibadah, ahli Sedekah, ahli zakat, ahli Infaq, Ahli Wakaf, Baik berupa Nominal ataupun berupa Barang, yang diperuntukkan kepada kesejahteraan Pondok, Santri dan masyarakat Luas.semua dikelola oleh tenaga Ahli dalam bidangnya. Karena masih banyak Anak - anak Yatim/Piatu serta Penghafal Al-qur'an, yang membutuhkan uluran tangan serta Pendampingan, Baik sebagai orang tua Asuh, ataupun menjadi penyandang dana kebutuhan Sehari-hari.

LPKU  EL-MADANI beralamat di Jl. Nasional III, Banjar Parakan, Banjarparakan, Kec. Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53173

Maps: https://goo.gl/maps/KvavRLEL9Tmyptvs9

tempatnya berada didalam Kantor Pusat El-Madani, bersamaan dengan Percetakan Mandiri Grafika El-Madani.

Halaman Facebook LPKU El-Madani: @LPKU.ELMADANI.OFFICIAL

Halaman Facebook Percetakan : @Mandirigrafikaelmadani

Halaman Facebook Ponpes El-Madani: @Pondok.Pesantren.Elmadani

Terimakasih kami ucapakan kepada seluruh pencinta Sedekah, Infak, Zakat, Wakaf, para dermawan dan masyarakat luas, atas dukungan dan bantuan anda, dalam kami melangkah, demi mencetak generasi remaja yang beragamis, berakhlaq, dan kerkemajuan.

Semoga ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA Membalas kebaikan panjenengan semua, dan menjadi Amal kebaikan Dunia dan Akhirat. Amiin.


 

Rabu, 31 Maret 2021

Akhlak Seorang Pelajar Terhadap Gurunya Bagian 3

Kesebelas, Pelajar hendaknya tidak mendahului pendidik untuk menjelaskan suatu masalah atau menjawab suatu pertanyaan; begitu juga pelajar tidak boleh menjelaskan atau menjawab bersamaan dengan pendidik. Pelajar hendaknya tidak menampakkan pengetahuan atau pemahaman tentang hal itu.

Pelajar tidak boleh memotong pembicaraan pendidik dalam hal apapun; tidak mendahului maupun membarengi pembicaraan pendidik, namun sebaiknya pelajar bersabar menunggu sampai pendidik selesai berbicara, baru kemudian pelajar boleh berbicara.

Pelajar tidak boleh berbincang-bincang dengan orang lain, padahal pendidik sedang berbicara dengan pelajar maupun para pelajar lain yang berada di majlis. Pelajar seharusnya memfokuskan perhatian kepada pendidik, sekiranya apabila pendidik memerintahkan sesuatu, bertanya sesuatu, maupun memberi isyarat kepadanya, pendidik tidak perlu mengulang sampai dua kali.

Kedua belas, Apabila pendidik menyerahkan sesuatu kepada pelajar, maka sebaiknya pelajar menerimanya dengan tangan kanan. Jika pelajar mau menyerahkan lembaran kertas yang sedang dia pegang untuk dibaca, lembaran cerita maupun lembaran-lembaran tulisan syara' (teks-teks suci agama Islam), dan sejenisnya; maka hendaklah pelajar membuka lembaran-lembaran dan mengangkatnya untuk diserahkan kepada pendidik. Pelajar tidak boleh menyerahkanlembaran-lembaran itu dalam keadaan tertutup atau terlipat, kecuali jika pelajar yakin atau menduga bahwa pendidik memang menghendaki seperti itu.

Apabila pelajar mau menyerahkan sebuah kitab, maka sebaiknya dia menyerahkan dalam keadaan siap untuk dibuka dan dibaca tanpa perlu mencari-cari lagi. Jika pendidik ingin melihat bagian tertentu dari kitab itu, maka sebaiknya pelajar membuka bagian kitab yang dikehendaki pendidik dan menunjukkan bagian yang dimaksud dengan jelas. Pelajar tidak boleh melempar apapun kepada pendidik, baik berupa kitab, lembaran, dan sejenisnya.

Pelajar sebaiknya mengulurkan tangannya kepada pendidik, jika posisi pendidik jauh; sehingga pendidik tidak perlu mengulurkan tangan untuk mengambil maupun menerima (benda/kitab yang diserahkan), bahkan lebih baik lagi jika pelajar berdiri menuju pendidik, namun tidak perlu sampal merangkak (bahasa Jawab: berangkang).

Jika pelajar duduk di depan pendidik, maka pelajar tidak boleh duduk terlalu dekat sehingga menimbulkan kesan tidak bertata-krama. Pelajar tidak boleh meletakkan tangan, kaki, atau bagian tubuh lain maupun pakaiannya di atas pakaian, bantal, sajadah maupun tempat tidur pendidik.

Apabila pelajar mau menyerahkan pena untuk digunakan menulis oleh pendidik, maka sebaiknya pelajar mengulurkan tangannya sebelum memberikan pena itu kepada pendidik. Jika pelajar mau meletakkan tempat tinta di depan pendidik, maka hendaknya tempat tinta itu dalam keadaan sudah terbuka dan siap pakai menulis.

Sedangkan jika mau menyerahkan pisau kepada pendidik, maka pelajar tidak boleh mengarahkan bagian pisau yang tajam maupun pegangan pisau ke arah pendidik, melainkan menyerahkan pisau itu dalam posisi melintang (horizontal), dengan sisi tajam pisau mengarah kepada pelajar dan menggenggam gagang pisau dengan posisi searah dengan tangan kanan pendidik yang akan menerima pisau itu.

Apabila pelajar mau menyerahkan sajadah untuk dipakai shalat oleh pendidik, maka sebaiknya pelajar menghamparkan sajadah itu terlebih dahulu. Memang tata-kramanya adalah menghamparkan sajadah itu, ketika hendak dipakai shalat oleh pendidik. Pelajar tidak boleh duduk maupun shalat di atas sajadah itu, ketika berada di hadapan pendidik, kecuali jika tempat lainnya tidak suci atau memang ada uzur untuk menggunakan sajadah tersebut. Ketika pendidik sudah selesai menggunakan sajadah, maka para pelajar hendaknya bergegas mengambil sajadah itu dan membawanya dengan tangan atau lengannya, jika pendidik menghendaki hal itu. Demikian juga, pelajar hendaknya mempersiapkan alas kaki yang dipakai pendidikjika hal itu tidak memberatkan hati pendidik. Semua sikap ini dimaksudkan untuk bertaqarrub kepada Allah dan mencari ridha pendidik.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa ada 4 hal yang tidak akan diacuhkan oleh orang yang mulia, sekalipun dia adalah pemimpin, yaitu: berdiri dari tempat duduknya karena menyambut ayahnya; melayani pendidik yang menjadi sumbernya belajar; bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui; dan melayani tamunya.

Ketika berjalan bersama pendidik, pelajar sebaiknya berada di depan pendidik jika saat itu adalah malam hari; akan tetapi pelajar hendaknya berjalan di belakang pendidik jika saat itu adalah siang hari; kecuali jika kondisi menuntut sebaliknya, semisal karena ada keramaian, dan sebagainya.

Pelajar sebaiknya berada di depan pendidik ketika berjalan di tempat- tempat yang belum dikenal, agar tidak terperosok ke dalam lumpur maupun tercebur. Demikian juga ketika berjalan di tempattempat yang mengkhawatirkan; dan pelajar hendaknya menjaga agar pakaian tidak sampai terkena percikan apapun.

Apabila berjalan di tengah keramaian, hendaknya pelajar melindungi pendidik dengan tangannya, baik dari arah depan maupun arah belakang. Jika pelajar berjalan di depan pendidik, maka sebaiknya dia menoleh setiap selang beberapa waktu. Jika pelajar itu sendirian,lalu pendidik mengajaknya bicara di tengah perjalanan, sedangkan keduanya sedang berada di tempat yang teduh, maka hendaknya pelajar berada di samping kanan pendidik, dan menurut keterangan lain, sebaiknya berada di samping kiri pendidik, dengan posisi agak lebih maju dan bisa menoleh kepada pendidik.

Pelajar hendaknya memperkenalkan orang-orang yang mendekat untuk menemui pendidik, jika pendidik belum mengenal orang yang bersangkutan. Pelajar tidak boleh berjalan di samping pendidik kecuali ada kebutuhan atau ada isyarat dari pendidik (untuk melakukan hal itu).

Pelajar hendaknya melindungi pendidik dari berdesak-desakan dengan bahunya atau bahu binatang tunggangannya, jika keduanya naik binatang tunggangan; serta menempel pada pakaian pendidik.

Selain itu, pelajar sebaiknya memilihkan jalan yang teduh ketika musim panas, dan memilihkan bagian jalan yang tersinari matahari, ketika musim dingin; serta di arah yang membuat (wajah) pendidik tidak terkena sinar matahari, sewaktu-waktu pendidik menoleh kepada pelajar.

Pelajar tidak boleh berjalan di tengah-tengah pendidik dan orang lain yang sedang diajak bicara oleh pendidik; akan tetapi posisi pelajar sebaiknya lebih mundur atau lebih maju; tidak mendekati, mendengarkan maupun menoleh kepada mereka berdua. Apabila pendidik ingin melibatkan pelajar dalam perbincangan, maka hendaklah pelajar mendatanginya dari arah lain.

Ketika pelajar bertemu pendidik, sebaiknya pelajar lebih dahulu memberi salam kepada pendidik. Pelajar sebaiknya datang menyongsong pendidik apabila posisi pendidik itu jauh. Pelajar tidak boleh memanggil dan memberi salam kepada pendidik dari kejauhan maupun dari arah belakang, akan tetapi harus mendekatinya, maju menemuinya, baru kemudian mengucapkan salam kepada pendidik.

Pelajar hendaknya tidak mendahului perbincangan di tengah jalan, sampai pendidik yang mengajaknya berbicara. Pelajar sebaiknya tidak bertanya kepada pendidik di tengah perjalanan.

Ketika pelajar tiba di rumah pendidik, maka pelajar tidak boleh berdiri di depan pintu rumahnya, karena dikhawatirkan berpapasan dengan seseorang yang keluar dari pintu itu, sedangkan pendidik tidak ingin orang itu terlihat oleh pelajar.

Jika pelajar mau naik tangga bersama pendidik, maka hendaknya pelajar berjalan di belakang pendidik; namun jika turun dari tangga, hendaknya pelajar berjalan di depan pendidik, sehingga sewaktuwaktu pendidik terpeleset kakinya, pendidik bisa bertopang kepada pelajar.

Pelajar tidak boleh berkomentar atas pendapat yang dikemukakan oleh pendidik, meskipun pendapat itu salah. Misalnya: "Pendapat ini salah", "Pendapat ini tidak sesuai dengan pendapatku". Akan tetapi hendaknya pelajar berkata: "Tampaknya, bahwa yang maslahat adalah seperti ini, pelajar tidak boleh berkomentar: "Menurut pendapatku adalah..." dan komentar-komentar sejenis.

Penulis : Santri_Lawas

Selasa, 30 Maret 2021

Biografi Imam Ahmad bin Hambal

 


Imam madzhab yang empat memiliki keistimewaan-keistimewaan yang saling melengkapi antara satu dan yang lainnya. Imam Abu Hanifah adalah pelopor dalam ilmu fikih dan membangun dasar-dasar dalam mempelajari fikih. Imam Malik adalah seorang guru besar hadits yang pertama kali menyusun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu buku. Imam Syafii merupakan ulama cerdas yang meletakkan rumus ilmu ushul fikih, sebuah rumusan yang membangun fikih itu sendiri.


Artikel ini akan mengenalkan kepada pembaca tokoh keempat dari imam-imam madzhab, dialah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah seorang ahli fikih sekaligus pakar hadits di zamannya. Perjuangan besarnya yang selalu dikenang sepanjang masa adalah perjuangan membela akidah yang benar. Sampai-sampai ada yang menyatakan, Imam Ahmad menyelamatkan umat Muhammad untuk kedua kalinya. Pertama, Abu Bakar menyelematkan akidah umat ketika Rasulullah wafat dan yang kedua Imam Ahmad lantang menyerukan akidah yang benar saat keyakinan sesat khalqu Alquran mulai dilazimkan. 

Nasab dan Masa Kecilnya

Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani. Imam Ibnu al-Atsir mengatakan, “Tidak ada di kalangan Arab rumah yang lebih terhormat, yang ramah terhadap tetangganya, dan berakhlak yang mulia, daripada keluarga Syaiban.”  Banyak orang besar yang terlahir dari kabilah Syaiban ini, di antara mereka ada yang menjadi panglima perang, ulama, dan sastrawan. Beliau adalah seorang Arab Adnaniyah, nasabnya bertemu denga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada tahun 164 H/780 M. Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dimana para ahli dalam bidangnya masing-masing berkumpul untuk belajar ataupun mengajarkan ilmu. Dengan lingkungan keluarga yang memiliki tradisi menjadi orang besar, lalu tinggal di lingkungan pusat peradaban dunia, tentu saja menjadikan Imam Ahmad memiliki lingkungan yang sangat kondusif dan kesempatan yang besar untuk menjadi seorang yang besar pula. 

Imam Ahmad berhasil menghafalkan Alquran secara sempurna saat berumur 10 tahun. Setelah itu ia baru memulai mempelajari hadits. Sama halnya seperti Imam Syafii, Imam Ahmad pun berasal dari keluarga yang kurang mampu dan ayahnya wafat saat Ahmad masih belia. Di usia remajanya, Imam Ahmad bekerja sebagai tukang pos untuk membantu perekonomian keluarga. Hal itu ia lakukan sambil membagi waktunya mempelajari ilmu dari tokoh-tokoh ulama hadits di Baghdad.


Perjalanan Menuntut Ilmu

Guru pertama Ahmad bin Hanbal muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi kias dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Madzhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadits dari seorang ahli hadits Baghdad, Haitsam bin Bishr.

Tidak cukup menimba ilmu dari ulama-ulama Baghdad, Imam Ahmad juga menempuh safar dalam mempelajari ilmu. Ia juga pergi mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah dan Yaman. Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafii di Mekah, lalu ia manfaatkan kesempatan berharga tersebut untuk menimba ilmu dari beliau selama empat tahun. Imam Syafii mengajarkan pemuda Baghdad ini tidak hanya sekedar mengahfal hadits dan ilmu fikih, akan tetapi memahami hal-hal yang lebih mendalam dari hadits dan fikih tersebut. 

Walaupun sangat menghormati dan menuntut ilmu kepada ulama-ulama Madzhab Hanafi dan Imam Syafii, namun Imam Ahmad memiliki arah pemikiran fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tidak fanatik dan membuka diri.


Menjadi Seorang Ulama

Setelah belajar dengan Imam Syafii, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapat sendiri dalam fikih. Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadits sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi oleh murid-murid dari berebagai penjuru negeri Islam. Terutama setelah Imam Syafii wafat di tahun 820, Imam Ahmad seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu yang senior maupun junior. 

Dengan ketenarannya, Imam Ahmad tetap hidup sederhana dan menolak untuk masuk dalam kehidupan yang mewah. Beliau tetap rendah hati, menghindari hadiah-hadia terutama dari para tokoh politik. Beliau khawatir dengan menerima hadiah-hadiah tersebut menghalanginya untuk bebas dalam berpendapat dan berdakwah.

Abu Dawud mengatakan, “Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat. Tidak pernah sedikit pun disebutkan perkara dunia di dalamnya. Dan aku sama sekali tidak pernah melihat Ahmad bin Hanbal menyebut perkara dunia.”

 

Masa-masa Penuh Cobaan

Pada tahun 813-833, dunia Islam dipimpin oleh Khalifah al-Makmun, seorang khalifah yang terpengaruh pemikiran Mu’tazilah. Filsafat Mu’tazilah memperjuangkan peran rasionalisme dalam semua aspek kehidupan, termasuk teologi. Dengan demikian, umat Islam tidak boleh hanya mengandalkan Alquran dan sunnah untuk memahami Allah, mereka diharuskan mengandalkan cara filosofis yang pertama kali dikembangkan oleh orang Yunani Kuno. Di antara pokok keyakinan Mu’tazilah ini adalah bahwa meyakini bahwa Alquran adalah sebuah buku dibuat, artinya Alquran itu adalah makhluk bukan kalamullah.

Al-Makmun percaya pada garis utama pemikiran Mu’tazilah ini, dan ia berusaha memaksakan keyakinan baru dan berbahaya tersebut kepada semua orang di kerajaannya –termasuk para ulama. Banyak ulama berpura-pura untuk menerima ide-ide Mu’tazilah demi menghindari penganiayaan, berbeda halnya dengan Imam Ahmad, beliau dengan tegas menolak untuk berkompromi dengan keyakinan sesat tersebut.

Al-Makmun melembagakan sebuah inkuisisi (lembaga penyiksaan) dikenal sebagai Mihna. Setiap ulama yang menolak untuk menerima ide-ide Muktazilah dianiaya dan dihukum dengan keras. Imam Ahmad, sebagai ulama paling terkenal di Baghdad, dibawa ke hadapan al-Makmun dan diperintahkan untuk meninggalkan keyakinan Islam fundamentalnya mengenai teologi. Ketika ia menolak, ia disiksa dan dipenjarakan. Penyiksaan yang dilakukan pihak pemerintah saat itu sangatlah parah. Orang-orang yang menyaksikan penyiksaan berkomentar bahwa bahkan gajah pun tidak akab bisa bertahan jika disiksa sebagaimana Imam Ahmad disiksa. Diriwayatkan karena keras siksaannya, beberapa kali mengalami pingsan.

Meskipun demikian, Imam Ahmad tetap memegang teguh keyakinannya, memperjuangkan akidah yang benar, yang demikian benar-benar menginspirasi umat Islam lainnya di seluruh wilayah Daulah Abbasiah. Apa yang dilakukan Imam Ahmad menunjukkan bahwa umat Islam tidak akan mengorbankan akidah mereka demi menyenangkan otoritas politik yang berkuasa. Pada akhirnya, Imam Ahmad hidup lebih lama dari al-Makmun dan Khalifah al-Mutawakkil  mengakhiri Mihna pada tahun 847 M. Imam Ahmad dibebaskan, beliau pun kembali diperkenankan mengajar dan berceramah di Kota Baghdad. Saat itulah kitab Musnad Ahmad bin Hanbal yang terkenal itu ditulis.

 

Wafatnya Imam Ahmad

Imam Ahmad wafat di Baghdad pada tahun 855 M. Banan bin Ahmad al-Qashbani yang menghadiri pemakaman Imam Ahmad bercerita, “Jumlah laki-laki yang mengantarkan jenazah Imam Ahmad berjumlah 800.000 orang dan 60.000 orang wanita .”

Warisan Imam Ahmad yang tidak hanya terbatas pada permasalahn fikih yang ia hasilkan, atau hanya sejumlah hadits yang telah ia susun, namun beliau juga memiliki peran penting dalam melestarikan kesucian keyakinan Islam dalam menghadapi penganiayaan politik yang sangat intens. Kiranya inilah yang membedakan Imam Ahmad dari ketiga imam lainnya.

Semoga Allah Ta’ala menerima amalan Imam Ahmad bin Hanbal dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan.


Sumber : kisahmuslim.com



Akhlak Seorang Pelajar Terhadap Gurunya Bagian 2


Ketujuh, Pelajar sebaiknya meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki tempat non-umum (ruangan pribadi, pent.) yang di dalamnya ada pendidik, baik pendidik itu sendirian maupun bersama orang lain. Jika pelajar meminta izin dan pendidik mengetahui hal itu, namun tidak memberinya izin, maka hendaklah pelajar meninggalkan tempat dan tidak mengulangi permintaan izinnya. Jika pelajar raguragu apakah pendidik mengetahui dirinya, maka pelajar tidak boleh meminta izin lebih dari tiga kali atau tiga kali ketukan pintu.

Hendaklah pelajar mengetuk pintu (kediaman) pendidik secara pelanpelan dengan penuh sopan santun, serta menggunakan kuku jari-jemari atau jari-jemari sedikit demi sedikit (secara bertahap, pent.).

Jika pendidik memberi izin, sedangkan pelajar datang bersama rombongan (jama'ah), maka yang pertama kali masuk dan mengucapkan salam kepada pendidik adalah orang yang paling mulia dan paling tua di antara rombongan; kemudian dilanjutkan anggota rombongan yang lain.

Pelajar masuk ke kediaman pendidik dengan sikap yang sempurna, badan dan pakaian yang bersih, serta melakukan hal-hal yang dibutuhkan, misalnya memotong kuku dan menghilangkan bau (badan maupun pakaian) yang menyengat hidung: terlebih lagi jika pelajar itu bermaksud untuk belajar ilmu, karena majlis ilmu merupakan majlis dzikir, majlis pertemuan sekaligus majlis ibadah.

Jika pelajar masuk ruangan pribadi yang di dalamnya ada pendidik dan orang lain yang sedang berbincang-bincang dengannya, kemudian mereka berdua berhenti berbicara; atau jika pelajar memasuki ruangan pendidik yang sendirian, sedangkan pendidik itu sedang shalat, berdzikir ataupun belajar, kemudian pendidik berhenti melakukan semua itu; maka hendaklah pelajar diam dan tidak memulai pembicaraan dengan pendidik, bahkan sebaiknya pelajar mengucapkan salam kepada pendidik lalu pergi secepatnya, kecuali jika pendidik memerintahkannya untuk diam di situ. Jika pelajar berdiam diri di tempat itu, maka tidak perlu berlama-lama kecuali jika diperintahkan oleh pendidik.

Apabila pelajar menghadiri ruangan pendidik, sedangkan pendidik tidak sedang duduk, maka sebaiknya pelajar rela menunggu supaya dia tidak ketinggalan pelajaran; dan pelajar tidak boleh mengetuk pintu agar pendidik keluar dari ruangan. Jika pendidik sedang tidur, pelajar hendaknya sabar menunggu sampai pendidik bangun tidur; atau pelajar boleh pergi dan kembali lagi di lain waktu. Namun bersabar (menunggu) itu lebih baik bagi pelajar.

Pelajar tidak boleh meminta waktu khusus kepada pendidik untuk dirinya sendiri tanpa ada orang lain, meskipun pelajar itu berstatus pemimpin atau pembesar, karena hal itu termasuk sikap sombong dan tolol kepada pendidik dan para pelajar lain. Apabila pendidik sendiri yang meluangkan waktu tertentu atau waktu khusus untuk pelajar karena ada suatu uzur yang membuat pelajar tidak bisa mengikuti pelajaran bersama para pelajar yang lain; atau karena menurut pendidik hal itu demi kemaslahatan pelajar, maka tidak mengapa.

Kedelapan, apabila pelajar duduk dihadapan kyai, maka hendaklah ia duduk dihadapannya dengan budi pekerti yang baik, seperti duduk bersimpuh diatas kedua lututnya (seperti duduk pada tahiyat awal) atau duduk seperti duduknya orang yang melakukan tahiyat akhir, dengan rasa tawadlu’ , rendah diri, thumakninah (tenang) dan khusyu’.

Sang santri tidak diperbolehkan melihat kearah gurunya (kyai) kecuali dalam keadaan dharurat, bahkan kalau memungkinkan sang santri itu harus menghadap kearah gurunya dengan sempurna sambil melihat dan mendengarkan dengan penuh perhatian, selanjutnya ia harus berfikir, meneliti dan berangan-angan apa yang beliau sampaikan sehingga gurunya tidak perlu lagi untuk mengulangi perkataannya untuk yang kedua kalinya.

Pelajar tidak diperkenankan untuk melihat kearah kanan, arah kiri atau melihat kearah atas kecuali dalam keadaan dlarurat, apalagi gurunya sedang membahas, berdiskusi tentang berbagai macam persoalan.

Pelajar tidak diperbolehkan membuat kegaduhan sehingga sampai didengar oleh sang kyai dan tidak boleh memperhatikan beliau, santri juga tidak boleh mempermainkan ujung bajunya, tidak boleh membuka lengan bajunya sampai kedua sikunya, tidak boleh mempermainkan beberapa anggota tubuhnya , kedua tangan, kedua kaki atau yang lainya, tidak boleh membuka mulutnya, tidak boleh menggerak-gerakkan giginya, tidak boleh memukul tanah atau yang lainya dengan menggunakan telapak tanganya atau jari-jari tanganya, tidak boleh mensela-selai kedua tangannya dan bermain-main dengan mengunakan sarung dan sebagainya.

Santri ketika berada dihadapan sang kyai maka ia tidak diperbolehkan menyandarkan dirinya ketembok, ke bantal, juga tidak boleh memberikan sesuatu kepadanya dari arah samping atau belakang, tidak boleh berpegangan pada sesuatu yang berada diselakangnya atau sampingnya.. Santri juga tidak diperkenankan untuk menceritakan sesuatu yang lucu, sehingga menimbulkan tertawa orang lain, ada unsur penghinaan kepada sang guru, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang sangat jelek, dan menampakkan prilaku dan budi pekerti yang kurang baik dihadapan gurunya.

Santri juga tidak boleh menertawakan sesuatu kecuali hal-hal yang kelihatan sangat menggelikan, lucu dan jenaka, ia tidak boleh mengagumi sesuatu ketika ia berada dihadapan gurunya.

Apabila ada sesuatu hal, peristiwa, kejadian yang lucu, sehingga membuat santri tertawa, maka hendaknya jikalau tertawa tidak terlalu keras, tidak mengeluarkan suara. Ia juga tidak boleh membuang ludah,mendehem selama hal itu bisa ditahan atau memungkinkan, namun apabila tidak mungkin untuk dilakukan maka seyogianya ia melakukannya dengan santun. Ia tidak boleh membuang ludah atau mengeluarkan riya dari mulutnya, namun yang paling baik adalah seharusnya itu dilakukan dengan menggunakan sapu tangan atau menggunkana ujung bajunya untuk dipakai sebagai tempat riya’ tersebut.

Apabila pelajar sedang bersin, maka hendaknya berusaha untuk memelankan suaranya dan menutupi wajahnya dengan menggunakan sapu tangan umpamanya. Apabila ia membuka mulut karena menahan rasa kantuk (angop) maka hendaknya ia menutupu mulutnya dan berusaha untuk tidak membuka mulut (angop).

Sebagai pelajar ketika sedang berada dalam sebuah pertemuan, dihadapan teman, saudara hendaknya memekai budi pekerti yang baik, ia selalu menghormati para sahabatnya, memulyakan para pemimpin, pejabat, dan teman sejawatnya, karena menampakkan budi pekerti yang baik kepada mereka, berarti ia telah menghormati para kyainya, dan menghormati pada majlis (pertemuan). Hendaknya ia juga tidak keluar dari perkumpulan mereka, majlis dengan cara maju ataupun mundur kearah belakang, santri (pelajar ) juga tidak boleh berbicara ketika sedang berlangsung pembahasan sebuah ilmu dengan hal-halyang tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan ilmu tersebut, atau mengucapkan sesuatu yang bisa memutus pembahas ilmu.

Apabila sebagian santri (orang yang mencari ilmu) itu berbuat hal hal yang tidak kita inginkan ( jelek ) terhadap salah seorang , maka ia tidak boleh dimarahi, disentak-sentak, kecuali gurunya sendiri yang melakukan hal itu, kecuali kalau guru memberikan sebuah isyarat kepada santri yang lain utnuk melakukannya.

Apabila ada seseorang yang melakukan hal-hal yang negatif terhadap seorang syaikh, maka kewajiban bagi jamaah adalah membentak orang tersebut dan tidak menerima orang tersebut dan membantu syaikh dengan kekauatan yang dimiliki (kalau memungkinkan).

Pelajar tidak boleh mendahului gurunya dalam menjelaskan sebuah permasalahan atau menjawab beberapa persoalan, kecuali ia mendapat idzin dari sang guru.

Termasuk sebagaian dari mengagungkan seorang kyai adalah santri tidak duduk disampingnya, diatas tempat shalatnya, diatas tempat tidurnya. Seandainya sang guru memerintahkan hal itu kepada muridnya, maka jangan sampai ia melakukannya, kecuali apabila sang guru memang memaksa dan melakukan intimidasi kepada santri yang tidak mungkin untuk menolaknya, maka dalam keadaan seperti ini baru diperbolehkan untuk menuruti perintah sang guru, dan tidak adadosa. Namun setelah itu ia harus berprilaku sebagaimana biasanya, yaitu dengan menjunjung tinggi akhlaqul karimah.

Dikalangan orang banyak telah timbul sebuah pertanyaan, manakah diantara dua perkara yang lebih utama, antara menjunjung tinggi dan berpegang teguh pada perintah sang guru namun bertentangan dengan akhlaqul karimah dengan menjunjung tinggitinngi nilai-nilai akhlaq dan melupakan perintah sang guru ?

Dalam permasalahan ini, menurut pendapat yang paling tinggi (rajih) adalah hukumnya tafsil; apabila perintah yang diberikan oleh guru tersebut bersifat memaksa sehingga tidak ada kemungkinan sedikitpun untuk menolaknya, maka hukumnya yang paling baik adalah menuruti perintahnya, namun bila perintah itu hanya sekedarnya dan bersifat anjuran, maka menjunjung tinggi nilai moralitas adalah diatas segalagalanya, karena pada satu waktu guru diperbolehkan untuk menampakkan sifat menghormati dan perhatian kepada santrinya (murid) sehingga akan wujud sebuah keseimbangan (tawazun) dengan kewajiban-kewajibannya untuk menghormati guru dan berprilaku, budi pekerti yang baik tatkala bersamaan dengan gurunya.

Kesembilan, Pelajar hendaknya berbicara dengan baik kepada pendidik semaksimal mungkin. Pelajar tidak bolehberkata: "Mengapa demikian?, "Kami tidak setuju", "Siapa yang menukil ini?", "Di mana sumber rujukannya (referensinya)?", dan lain-lain. Jika pelajar ingin mengetahui semua itu, maka sebaiknya pelajar bersikap pelan-pelan untuk melakukannya; dan yang lebih utama adalah menanyakan semua itu di majlis-majlis lain.

Ketika pendidik menerangkan suatu pelajaran, pelajar tidak boleh berkata: "Bagaimana pendapat Anda?", "Saya punya pendapat, "Bagaimana pendapat Fulan", "Fulan berpendapat berbeda dengan Anda", "Pendapat ini tidak benar!", dan perkataan-perkataan sejenisnya.

Jika pendidik mengutip suatu pendapat atau dalil yang tidak jelas atau tidak benar, dikarenakan kelalaian atau kelemahan pendidik, maka hendaknya pelajar mengingatkan pendidik dengan wajah berseri-seri, tanpa merubah air muka (mimik) maupun pandangan mata; karena manusia tidak ada yang terpelihara dari kesalahan selain para Nabi AS.

Kesepuluh, Ketika pendidik menyebutkan hukum suatu kasus, suatu pelajaran cerita, atau membacakan sya'ir; sedangkan pelajar sudah menghafalnya, maka hendaknya pelajar mendengarkan pendidik dengan seksama seolah- olah ingin mendapatkan pelajaran pada saat itu; menampilkanperasaan dahaga untuk mengetahui pelajaran itu; dan bergembira layaknya orang yang belum pernah mengetahui pelajaran itu sama sekali.

Atha' RA berkata: "Sesungguhnya saya pernah mendengar Hadits dari seorang laki-laki, sedangkan saya lebih mengetahui Hadits itu dibandingkan dia; namun saya menampakkan diri di depannya sebagai seorang yang tidak mengerti sedikitpun tentang Hadits itu". 'Atho' RA juga berkata: "Sesungguhnya sebagian pemuda mendiskusikan suatu Hadits,, kemudian saya mendengarkan seolah-olah saya belum pernah mendengar Hadits tersebut; padahal saya sudah mendengar Hadits itu sebelum mereka dilahirkan".

Jika pendidik bertanya kepada pelajar di tengah-tengah memberi pelajaran, apakah pelajar hafal semua pelajaran itu, maka pelajar tidak boleh menjawab: "Ya", karena jawaban itu menunjukkan bahwa pelajar merasa tidak membutuhkan lagi kepada pendidik. Namun pelajar juga tidak boleh mengatakan "Tidak", karena jawaban itu berarti dusta. Eloknya, pelajar menjawab: "Saya senang mendengar pelajaran itu dari Bapak atau saya ingin mendapatkan pelajaran dari Bapak.

Penulis : Santri_Lawas

Haflah At Tasyakur Akhirussanah dan Haul Ahli Quburina Ponpes El-Madani 2021

Rawalo Pada hari Minggu, 28 maret 2021 yang bertepatan dengan tanggal 15 Sha’ban 1442 H telah diadakan acara Haflah At Tasyakur Akhirussanah dan Haul Ahli Quburina di PP El-Madani Rawalo. Acara tersebut diawali dengan semaan al – Quran 30 Juz yang dimulai pada pukul 07.30 WIB oleh santri el-Madani beserta Ibu Nyai Khilya Al-Hafidzah dan Ibu Nyai Laily Khumaira, M.A. Al-Hafidzah.

Acara tersebut dibuka oleh Gus Abdul Basith, M.H.I selaku salah satu Khodimul Ma’had PP El-Madani Rawalo. Setelah itu diteruskan dengan semaan Al-quran yang dibagi dibeberapa tempat yaitu di Masjid Kedungwangkal, Asrama Putri Abidah dan Kantor LPKU Glinggang. Pada semaan kali ini ada 10 orang yang di simak bacaannya yaitu Ibu Nyai Khilya, Ibu Nyai Khumaira, Mbak Iren, Mbak Khilyatul Jannah, Mbak Retno, Mbak Anisa, Mbak Nanda, Mbak Fadila, Mbak Fida dan Kang Zayd. Dan kemudian semaan al-Quran tersebut ditutup dengan doa khotmil Quran oleh Gus Rif'an Muhajirin, S.H.I .

Pada acara Haflah At Tasyakur Akhirussnnah kali ini terdiri dari beberapa rangkain acara, yang pertama diawali dengan Semaan AL-Quran pada pagi harinya. Kemudian di sore hari dilanjutkan dengan Ziarah ke Maqbarah Muassis Ponpes El-Madani Yaitu Kyai Muhammad Djudan Dawam. Dan selanjutnya pada malam harinya adalah acara inti yaitu tahlil dan El-Madani bersholawat bersama Gus Ahmad Faizun dan Gus Zaky Makarim.

Penulis : Santri_Lawas


Dokumentasi Acara

1. Semaan Al-Quran 30 Juz














2. Ziarah Ke Maqbarah Muassis Ponpes




3. Tahlil Dan El-Madani Bersholawat











Sabtu, 27 Maret 2021

Arti Sebenarnya Niat

 


Pengertian Niat

Niat adalah amalan hati ( amaliyah qolbiyah ) sehingga hanya Allah SWT dan setiap orang yang mengetahui niat atau motif seseorang dalam berbuat, berbuat baik, atau beribadah. NIAT dalam bahasa (arab), niat ( نية ) adalah keinginan di dalam hati untuk melakukan suatu tindakan. Orang Arab menggunakan kata niat dalam arti "sengaja". Terkadang niat juga digunakan dalam arti sesuatu yang dimaksudkan atau disengaja.

Secara istilah, tidak ada definisi khusus untuk maksud. Oleh karena itu, banyak ulama yang memberikan makna niat dalam bahasa, seperti Imam Nawawi yang mengatakan niat adalah berniat melakukan sesuatu dan bertekad penuh untuk melakukannya . ”

Mengacu pada hadits otentik, niat adalah motivasi, maksud, atau tujuan di balik suatu tindakan. Rasulullah Saw menyatakan, niat menentukan pahala dari suatu perbuatan. Jika niatnya karena Tuhan, maka pahala itu dari Tuhan. Jika niatnya bukan karena Tuhan, atau dibarengi dengan motif lain, maka Tuhan tidak akan menerima amalan tersebut sebagai ibadah.

Hadist tentang niat

        نما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نو  

“ Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia inginkan ” (HR Bukhari & Muslim).

Hadits tersebut secara lengkap menceritakan tentang niat seseorang untuk bermigrasi. Hijrah termasuk beribadah karena itu perintah Allah SWT. Namun jika ada niat lain dalam bermigrasi, maka migrasi tidak menjadi ibadah.

إنماالْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya. Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang diinginkannya. Jadi barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrah karena dunia yang dikejar atau wanita. dia ingin menikah, lalu dia pindah ke apa yang dia (ingin) migrasikan padanya." (HR. Bukhari-Muslim).

Imam Bukhari menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya (Shahih Bukhari) sebagai mukaddimah kitabnya. Di sana tersirat bahwa setiap amalan yang tidak diniatkan karena mengharap Allah SWT adalah sia-sia.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan kekuatan agar kita senantiasa berniat ikhlas, hanya mengharap ridha-Nya, dalam setiap amal. Amin...! Wallahu a'lam bish-shawabi


Sumber: Majalah As Sunnah, Shahihain, Sirrah Nabawiyah, Riyadhus Shalihin



Writer : Rizki_El Madani


Baca Juga : 

Akhlak Seorang Pelajar Terhadap Gurunya Bagian 1

Biografi Salahuddin Al-Ayubi

Akhlak Pribadi Seorang Murid


Akhlak Seorang Pelajar Terhadap Gurunya Bagian 1


Akhlaq orang yang menuntut ilmu (murid, santri, pelajar) ketika bersama–sama dengan gurunya ada dua belas macam budi pekerti, yaitu :


Pertama, Berangan-berangan, berfikir yang mendalam kemudian melakukan shalat istikharah, kepada siapa ia harus mengambil ilmu dan mencari bagusnya budi pekerti darinya. Jika memungkinkan seorang pelajar, hendaklah memilih guru yang sesuai dalam bidangnya, ia juga mempunyai sifat kasih sayang, menjaga muru’ah (etika), menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan mertabat seorang guru. Ia juga seorang yang bagus metode pengajaran dan pemahamannya. Diriwayatkan dari sebagian ulama’ salaf: “Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil atau belajar agama kalian”.


Kedua, Bersungguh-sungguh dalam mencari seorang guru, ia termasuk orang yang mempunyai perhatian khusus terhadap ilmu syari’at dan termasuk orang-orang yang dipercaya oleh para guru-guru pada zamanya, sering diskusi serta lama dalam perkumpulan diskusinya, bukan termasuk orang-orang yang mengambil ilmu berdasarkan makna yang tersurat dalam sebuah teks dan tidak dikenal guru-guru yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi. Imam kita Al-Syafi’i berkata: “Barang siapa yang mempelajari ilmu fiqh hanya memahami makna–makna yang tersurat saja, maka ia telah menyia-nyiakan beberapa hukum”.


Ketiga, Menurut terhadap gurunya dalam segala hal dan tidak keluar dari nasehat-nasehat dan aturan-aturannya. Bahkan, hendaknya hubungan antara guru dan muridnya itu ibarat pasien dengan dokter spesialis. Sehingga ia minta resep sesuai dengan anjurannya dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh ridhanya terhadap apa yang ia lakukan dan bersungguh sungguh dalam memberikan penghormatan kepadanya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara melayaninya. Hendaknya seorang pelajar tahu bahwa merendahkan diri di hadapan gurunya merupakan kemulyaan, kertundukannya kepada gurunya merupakan kebanggaan dan tawadlu’ dihadapannya merupakan keterangkatan derajatnya.


Keempat, Memandang guru dengan pandangan bahwa dia adalah sosok yang harus dimuliakan dan dihormati dan berkeyakinan bahwa guru itu mempunyai derajat yang sempurna. Karena pandangan seperti itu paling dekat kepada kemanfaatan ilmunya. Abu Yusuf berkata: “Aku mendengar para ulama’ salaf berkata: “Barang siapa yang tidak mempunyai sebuah (I’tiqad) keyakinan tentang kemulyaan gurunya, maka ia tidak akan bahagia. Maka bagi pelajar jangan memanggil guru dengan menggunakan ta’ khitab (baca: kamu) dan kaf khitab (mu), ia juga jangan memanggil dengan namanya. Bahkan ia harus memanggil dengan: ” yaa sayyidi” , wahai tuanku atau “yaa ustadzi”, wahai guruku. Juga ketika seorang guru tidak berada ditempat, maka pelajar tidak diperkenankan memanggil dengan sebutan namanya kecuali apabila nama tersebut disertai dengan sebutan yang memberikan pengertian tentang keagungan seorang guru, seperti apa yang di ucapkan pelajar: ”Al Syekh Al Ustadz berkata begini-begini“ atau “guru kami berkata” dan lain sebagainya.


Kelima, hendaknya pelajar mengetahui kewajibannya kepada gurunya dan tidak pernah melupakan jasa-jasanya, keagungannya dan kemulyaannya, serta selalu mendoakan kepada gurunya baik ketika beliau masih hidup atau setelah meninggal dunia.


Selalu menjaga keturunannya, para kerabatnya dan orang-orang yang beliau kasihi, dan selalu menekankan terhadap dirinya sendiri untuk selalu berziarah kemakam beliu untuk memintakan ampun, memberikan shadaqah atas nama beliau, selalu menampakkan budi pekerti yang bagus dan memberikan petunjuk kepada orang lain yang membutuhkannya, disamping itu pelajar harus selalu menjaga adat istiadat, tradisi dan kebiasaan yang telah dilakukan oleh gurunya baik dalam masalah agama atau dalam masalah keilmuan, dan menggunakan budi pekerti sebagaimana yang telah dilakukan oleh gurunya, selalu setia, tunduk dan patuh kepadanya dalam keadaan apapun dan dimanapun ia berada.


Keenam, pelajar harus mengekang diri , untuk berusaha sabar tatkala hati seorang guru sedang gundah gulana, marah, murka atau budi pekerti, prilaku beliau yang kurang diterima oleh santrinya.


Hendaklah hal tersebut tidak menjadikan pelajar lantas meninggalkan guru (tidak setia) bahkan ia harus mempunyai keyakinan, i’tiqad bahwa seorang guru itu mempunyai derajat yang sempurna, dan berusaha sekuat tenaga untuk menafsiri , menakwili semua pekerjaan-pekerjaan yang ditampakkan dan dilakukan oleh seorang guru bahwasanya yang benar adalah kebalikannya , dengan pena’wilan dan penafsiran yang baik.


Apabila seorang guru berbuat kasar kepada santrinya, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah dengan cara meminta ampunan kepada guru dan menampakkan rasa penyesalan diri dan mencari kerilaan, ridha dari gurunya, karena hal itu akan lebih mendekatkan diri pelajar untuk mendapatkan kasih sayang guru.


Penulis : Santri_Lawas


Baca Juga : 

Arti Sebenarnya Niat

 

Alamat Pondok Pesantren El-madani

PPDB SMA Pesantren El-madani

jadwal sholat

jadwal-sholat