Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Kamis, 25 Februari 2021

KH Abdullah Bin Nuh, Ulama Dari Provinsi Jawa Barat, Bersama Habib Lutfi Bin Yahya


KH Abdullah bin Nuh (kiri) bersama
Syekh Abdurrahman Baishor
Grand Syekh Al Azhar Mesir  

Siapa KH Abdullah bin Nuh itu? nama yang menjadi sebuah jalan protokol di tengah Kota Bogor?

KH Abdullah bin Nuh adalah salah satu ulama kharismatik dari Provinsi Jawa Barat, beliau seorang Ulama yang gigih berjuang ikut mengangkat senjata melawan penjajah di Indonesia. beliau juga memiliki peran strategis sebagai jurnalis di berbagai surat kabar dan majalah serta sebagai penyiar Bahasa Arab di RRI di masa awal Kemerdekaan.
Di bidang pendidikan beliau tercatat sebagai perintis berdirinya perguruan tinggi Islam di Yogyakarta (kini bernama UII) serta menjadi dekan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. beliau juga penulis produktif yang banyak menghasilkan puluhan karya buku baik dalam bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia.
Beliau dikenal sebagai wali Allah yang memiliki banyak karomah. Seperti penuturan Habib Umar Majalaya sekaligus sebagai kesaksian saat itu. Sewaktu kecil, beliau diajak ayahnya ke Pesantren Al-Ghazali Bogor, saat sudah sampai di depan pintu, beliau bergumam dalam hatinya,
‘Ajengannya sudah tua ya’.
Seketika itu Kiai Abdullah menjawabnya, ‘Benar sekali Habib, saya memang sudah tua.’
Si Habib pun terlihat malu, dan berpikir bagaimana bisa si Ajengan membaca pikirannya.
Ada kisah tak kalah menarik lainnya. Habib Luthfi sewaktu mudanya pernah diutus sang ayah untuk berkunjung ke Pesantren Al-Ghazali Bogor. Dalam keadaan sakit, Kyai Abdullah setelah Subuh sudah meminta orang rumah menyiapkan hidangan untuk tamu istimewanya yang akan hadir.
Tibalah Habib Luhtfi bin Yahya, dan langsung disambut Kyai Abdullah dengan berbahasa Arab panjang lebar hingga sekitar 20 menit.
Saat itu, sebagaimana diakui Habib Luthfi, Kyai Abdullah sedang mentransfer 12 Kitab kepadanya. kedua belas kitab itulah yang dipelajari Mama Abdullah dari kakek Habib Luthfi sewaktu menjadi satri Pekalongan.

Baca juga:

Kyai Abdullah juga dikaruniai kemuliaan mimpi bertemu Rasulullah hingga tak kurang dari 10 kali. Saat menjadi tentara PETA wilayah Jawa Barat, KH Abdullah bin Nuh memiliki satu amalan bershalawat kepada Rasulullah tak putus setiap harinya secara kontinyu.
Tiap derap langkah dan strategi yang ia ambil dalam aksinya melawan penjajah, selalu dibacakan shalawat terlebih dahulu. Wirid melanggengkan shalawat inilah, diakui KH Abdullah bin Nuh menjadi wasilah pertemuannya dengan sang kekasih hati, Nabi Muhammad SAW.
Di antara salah satu kisahnya adalah sewaktu dalam masa perjuangan, Kyai Abdullah berencana mendatangkan senapan sebagai upaya melawan penjajahan di Tanah Air.
Tak hanya itu Kyai Abdullah selaku komandan PETA juga berencana mempelajari perakitannya. Pada suatu malam Kiai Abdullah bermimpi mendatangi suatu negeri yang penuh dengan pasir seperti pasir yang terdapat di negeri-negeri Arab, anehnya di sana terdapat gubug seperti di daerah Jawa.
Tiba-tiba saja, Rasulullah SAW berada di tengah-tengah gubug itu. Dikatakan bahwa Rasulullah SAW dalam beberapa tahun terakhir melaksanakan haji. Saat itu, Kiai Abdullah berniat melaksanakan haji sambil belajar merakit senapan kecil.
Lalu, dalam mimpi itu ia mendatangi Haji Abdur Rahman. Maka, ia memberi satu koper kulit yang berisikan senapan yang dimaksudkan dalam keadaan terbongkar. Mimpi ini terjadi ketika aku sedang melakukan jihad kemerdekaan Indonesia melawan kekuatan penjajah Belanda.
Bahkan, Haji Abdur Rahman berpesan kepadaku agar berhati-hati dengan membawa senjata itu. Akan tetapi, aku meninggalkannya untuk mendekati Rasulullah SAW hingga aku mencium tangannya yang mulia. Beliau bersabda,
“Bukankah kamu datang untuk belajar merakit senjata api, ya sudah sana..!”
Hal ini sebagai isyarat bahwa Rasulullah SAW merestui rencana KH Abdullah bin Nuh mendatangkan senapan.
KH Abdullah bin Nuh di usia senjanya selalu menggaungkan persatuan umat Islam di Indonesia. Beliau wafat pada usia 84 tahun. Praktis, tidak ada waktu terbuang sia-sia dalam kehidupannya.
Semuanya dihabiskan untuk kepentingan umat, bangsa dan negara. Kiai Kharismatik ini meninggal pada 26 Oktober 1987. Jenazahnya dikebumikan di komplek Pesantren Al-Ghazali Bogor.
Kisah perjuangannya menjadi pembelajaran yang abadi dan buku-buku yang ditulisnya menjadi amal jariyah yang mengalirkan pahala bagi Sang Wali Allah asal Jawa Barat ini. Amin.

Sumber    :   Nasir Nashiruddin.
Writer By :
facebook
agung

0 comments:

Posting Komentar

kritik saran silahkan tinggalkan, kami dengan senang hati untuk memperbaiki

 

Alamat Pondok Pesantren El-madani

PPDB SMA Pesantren El-madani

jadwal sholat

jadwal-sholat