Cari Blog Ini

Program Tahfidz terpadu, Kajian kitab, yatim piatu, Wirausaha, SMA Pesantren El madani, LPKU MPZ Darul Qur'an

Rabu, 03 Februari 2021

Masjid Saka tunggal Cikakak Wangon Banyumas


Tahun 1288 Masehi begitulah tulisan yang tertera di tiang masjid yang terlihat masih alami dan terletak didesa Cikakak kecamatan Wangon kabupaten Banyumas Jawa tengah, saka tunggal itulah nama masjid yang tergolong salah satu masjid tertua yang ada dikabupaten Banyumas, bahkan di Indonesia, selain masjid dan tradisinya yang unik, di saka tunggal juga banyak hewan kera yang berkeliaran, yang menambah indah dan agungnya masjid Saka tunggal. Perjalanan ke masjid saka tunggal sangat mudah untuk di jangkau, jika anda dari arah utara atau dari arah purwokerto yang kebetulan lewan kecamatan Ajibarang kearah selatan menuju arah Wangon, sampai di pertigaan pasar pagi Cikakak, atau masjid Baitussalim kearah kanan masuk terus , jika anda dari arah selatan Wangon, anda keutara sampai bertemu dengan pasar pagi Cikakak Masjid Baitussalim, anda belok kiri jalan terus sampai ketujuan.

Masjid saka tunggal tergolong unik karena menggunakan satu tiang penyanggah tepat berada ditengah – tengah dalam masjid, saka tunggal sendiri diartikan sebagai Pilar tunggal ini yang melambangkan bahwa hanya ada satu Tuhan yaitu Allah SWT, atau juga disebut saka guru.

Masjid saka tunggal merupakan aset peninggalan sejarah yang perlu dilestarikan, pemkab Banyumas, menambatkan saka tunggal merupakan salah satu cagar budaya.

Mayoritas warga di Desa Cikakak adalah penganut Islam Aboge, atau umat Islam yang menggunakan kalender Alif Rebo Wage.

Keunikan dan tradisi yang ada di Masjid Saka tunggal Cikakak

·         Zikir seperti melantunkan kidung jawa

Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura.

 

·        









Pakaian Imam dan muazin

Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung,

·         Empat muazin sekaligus

Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan.

·         Semuanya dilakukan berjama’ah

Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur. Semuanya dilakukan secara berjamaah.

·         Tanpa Pengeras Suara

Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu dari masjid ini.

·         Ritual Ganti Jaro, Masjid Saka Tunggal

Adalah ritual mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga desa Cikakak. Dalam ritual yang mereka sebut ganti Jaro Rajapine. Saat membuat pagar ada beberapa pantangan yang harus ditaati. Mereka dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Sehingga yang terdengar hanya pagar bambu yang dipukul. Karena melibatkan ratusan warga, hanya dalam waktu 2 jam pagar sepanjang 300 meter ini selesai.

·         Selain bermakna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia. Pagar bambu ini selain mengelilingi Masjid Saka Tunggal juga makam Nyai Toleh. Seorang penyebar agama di Banyumas. Sejumlah utusan dari kraton Surakarta dan Ngayogjogkarta Hadiningrat ikut ambil bagian dalam acara ini dengan memanjatkan doa di makam, sebagai rasa syukur.

·         Ritual ganti Jaro Rajab ini kemudian diakhiri dengan prosesi arak arakan 5 gulungan yang berisi nasi tumpeng ini kemudian diperebutkan warga karena dipercaya bisa memberikan berkah.

Sejarah Masjid Saka tunggal Cikakak tak lepas dari sesosok Kyai Mbah Mustolih yang hidup diperkirakan pada masa Kesultanan Mataram Kuno.

 

 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

kritik saran silahkan tinggalkan, kami dengan senang hati untuk memperbaiki