Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Minggu, 21 Februari 2021

PENGORBANAN PARA ULAMA DALAM PERJUANGAN MEREKA MENUNTUT ILMU

PENGORBANAN PARA ULAMA DALAM PERJUANGAN MEREKA MENUNTUT ILMU

Musyawarah Santri Putra

Ini tentang kisah perjuangan finansial para penuntut ilmu. Ada ungkapan menarik dari salah seorang ulama. Imam ibnu abdil bar dalam kitab bayan al ‘ilm wa fadhlihi menyitir ungkapan imam syu’bah sebagai berikut :


قال الإمام شعبة : ” من طلب الحديث أفلس”


“Barang siapa menuntut ilmu hadits, maka ia akan jatuh bangkrut..”


Sungguh, apa yang beliau sampaikan tidaklah berlebihan. Bagi orang yang belum menyelami bagaimana pengorbanan para ulama dahulu dalam belajar dan menuntut ilmu, ungkapan ini pasti terdengar asing dan mengherankan. Padahal, jika kita melihat, ungkapan ini hanya sedikit gambaran bagaimana potret dari semangat juang para ulama dahulu yang luar biasa.

Apapun itu mereka korbankan untuk ilmu. Bahkan pada hal-hal yang kebutuhannya bersifat primer seperti rumah dan pakaian. Bagaimana tidak, jikalau Imam Malik sampai rela menjual atap rumahnya untuk keperluan menuntut ilmu, Imam Syu’bah menjual bak mandi ibunya, Imam Abu Hatim menjual pakaiannya satu per satu sehingga yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badannya, dan Imam Ahmad sampai rela safar tanpa alas kaki karena menggadaikan sandalnya sebagai bekal perjuangan menuntut ilmu. 

Ketahuilah, mereka mengorbankan benda-benda itu karena hanya itulah yang mereka miliki.

Riwayat ini diceritakan oleh syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dengan sanadnya dalam kitab masyhur beliau “ صفحات من صبر العلماء “ ( shafahat min shabr al ulama’ ).


Suatu kali, Imam Yahya bin Ma’in pernah ditanya setelah mendapat kekayaan warisan dari ayahnya, “apa yang akan kau perbuat dengan semua ini?”, ia menjawab dengan penuh keyakinan, “saya akan infaqkan semua ini untuk belajar hadits.”

Bahkan dahulu ada ulama yang sudi mengeluarkan beberapa dinar (keping emas) miliknya hanya demi membeli tinta untuk menulis.

Dan kisah-kisah lain yang luar biasa, banyak diantara mereka yang jatuh bangkrut demi ilmu. Bahkan ada diantara mereka yang rela menjual seluruh pakaiannya, hingga ia hidup tak berbusana di dalam rumahnya sendirian. MasyaAllah.. Betapa pengorbanan kita masih jauuuuh..


Imam Ali bin Harb pernah bercerita,


أتينا زيد بن الحباب، فلم يكن له ثوب يخرج فيه إلينا، فجعل الباب بيننا و بينه حاجزا، و حدثه من ورائه -رحمه الله تعالى


Kami mendatangi Zaid bin Hubab untuk belajar hadits, keadaan beliau saat itu tidak memiliki pakaian yang dengannya ia bisa menemui kami, kemudian ia menjadikan pintu rumahnya menjadi tirai pengahalang diantara kami dan beliau, dan berlanjutlah periwayatan hadits tersebut dibalik pintu itu. (shafahat min shabr al ulama’, halaman : 234)

Umar bin Hafs al Asyqor juga pernah bercerita,


إنهم فقدوا البخاري أياما من كتابة الحديث بالبصرة، قال : فطلبناه فوجدناه في بيت و هو عريان، و قد نفد ما عنده و لم يبق معه شيء


Dahulu para penuntut ilmu itu pernah beberapa hari mencari-cari Imam Bukhori di Bashrah untuk menimba hadits, setelah dicari ternyata mereka menemukan Imam Bukhori dalam keadaan telanjang di rumahnya, telah habis apa yang ia punya dan tak ada tersisa satupun yang ia miliki. (tarikh baghdad li al khathib , Juz 2 halaman 13 )


Teman teman.. Begitulah menuntut ilmu. Ia adalah jalan pengorbanan. Jika engaku serius mencintainya, engkau akan korbankan segalanya. Ia tidak hanya memaksa penuntutnya untuk mengorbankan energi, waktu, tenaga, dan pikirannya, ia juga menuntut untuk terkorbannya harta.

Kadang kita harus rela untuk tidak berbelanja dan makan enak, demi mampu berbekal dalam menuntut ilmu, menempuh perjalanan menuju halaqah-halaqah para ulama, membeli kitab-kitab utama dan mampu memuaskan penasaran pada kitab-kitab baru yang menggiurkan. Kadang ia berjilid-jilid tebal mempesona.

Pantas dahulu Imam Malik berkata:


“لا ينال هذا الأمر -يعني العلم- حتى يُذاق طعم الفقر”

“Seseorang tidak akan memperoleh ilmu, sampai ia merasakan pahitnya kefaqiran”


Jika diantara teman-teman ada yang sudah berkorban banyak dalam menuntut ilmu, siap untuk tidak makan enak, dan rela untuk tidak kenakan pakaian baru demi pengalokasian uang ke kitab dan bekal-bekal belajar, maka sungguh dia sudah mengamalkan sunnahnya para ulama.

Memang harus seperti itu, bukannya kita yakini bahwa ilmu adalah sesuatu yang termahal? Buklkannya kita tahu bahwa suatu yang mahal tidak bisa terbayar dengan suatu yang remeh-temeh?

Tapi.. Ingat!! Itu tak seberapa dari apa yang Allah persiapkan bagi pejuang pejuang ilmu dari keagungan, derajat yang tinggi dan pahala yang besar. Diantaranya adalah otoritas syafaat yang diberikan oleh Allah bagi para ulama dan pencari ilmu kelak di hari kiamat. 


Allah berfirman, ‘Wahai sekalian ulama. Inilah surgaku. Kuizinkan surga ini untuk kalian. Inilah ridha-Ku. Aku telah meridhai kalian. Jangan kalian masuk surga terlebih dahulu sebelum berdiam untuk memberikan syafaat kepada siapa saja yang kalian kehendaki.

Aku juga memberikan mandat agar kalian memberikan syafaat kepada mereka yang meminta syafaat kalian agar aku dapat memperlihatkan kepada semua hamba-Ku betapa tinggi kemuliaan dan kedudukan kalian,’”

Hal ini disebutkan dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya karya Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi halaman 63-64.


#pojokpesantrenelmadani #ayomondok #santrisaklawase #mondoksampairabi #ngajisampaimati #SMApesantrenelmadani #ngajiakhlak #alasantri #santribanyumas

0 comments:

Posting Komentar

kritik saran silahkan tinggalkan, kami dengan senang hati untuk memperbaiki

 

Alamat Pondok Pesantren El-madani

PPDB SMA Pesantren El-madani

jadwal sholat

jadwal-sholat